Shein Bidik IPO Hong Kong September-Oktober, Valuasi Anjlok dari Puncak
Baca dalam 60 detik
- Shein menargetkan pencatatan saham di Hong Kong pada September atau Oktober setelah mendapat lampu hiju dari regulator China.
- Perusahaan fast-fashion itu diperkirakan melepas hingga 8% saham dengan valuasi US$40-50 miliar, turun drastis dari US$100 miliar pada 2022.
- Shein akan mengompensasi investor lama dengan skema pembelian saham khusus untuk menutup selisih valuasi.

Fast-fashion retailer Shein dikabarkan akan melangsungkan penawaran umum perdana (IPO) di Hong Kong pada September atau Oktober tahun ini, setelah memperoleh persetujuan dari regulator sekuritas China pada pekan lalu. Langkah ini menjadi sinyal bahwa perusahaan asal China tersebut tetap optimistis meskipun valuasinya terkoreksi signifikan dari puncaknya pada 2022.
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, Shein berencana menjual hingga 8% sahamnya, meskipun angka final kemungkinan lebih kecil. Dengan valuasi IPO yang diperkirakan berkisar US$40-50 miliar, dana yang akan diraup diperkirakan berada di kisaran satu digit rendah dari total valuasi. Angka ini jauh di bawah valuasi US$100 miliar yang dicapai Shein dalam putaran pendanaan pada 2022.
Penurunan valuasi ini tidak lepas dari tekanan regulasi di berbagai negara, termasuk kekhawatiran atas praktik ketenagakerjaan dan dampak lingkungan. Untuk meredam kekecewaan investor lama, Shein berencana memberikan kompensasi berupa dana untuk membeli saham dalam IPO tersebut. Skema ini diharapkan dapat menjaga loyalitas investor di tengah koreksi harga yang tajam.
Bagi pasar Indonesia, IPO Shein menjadi perhatian karena merek ini memiliki basis konsumen yang besar di Tanah Air, terutama di kalangan anak muda. Kehadiran Shein di Indonesia melalui platform e-commerce lokal seperti Shopee dan Tokopedia membuat produknya mudah diakses. Jika IPO sukses, Shein berpotensi memperkuat ekspansi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang merupakan pasar fast-fashion yang tumbuh pesat.
Analis menilai bahwa langkah Shein untuk go public di Hong Kong, bukan di New York seperti yang sempat diwacanakan, menunjukkan adaptasi terhadap ketegangan geopolitik antara AS dan China. Hong Kong dinilai lebih aman secara regulasi bagi perusahaan China, meskipun likuiditasnya tidak sebesar bursa AS. Keputusan ini juga mencerminkan strategi Shein untuk mendekatkan diri dengan investor Asia.
Ke depan, keberhasilan IPO Shein akan menjadi ujian bagi minat investor terhadap sektor fast-fashion di tengah meningkatnya kesadaran akan keberlanjutan. Pertanyaan yang muncul adalah apakah Shein mampu mempertahankan pertumbuhan sambil menjawab kritik terhadap model bisnisnya yang boros sumber daya. Jawabannya akan terlihat dari respons pasar saat sahamnya mulai diperdagangkan.



