Naira Terperosok ke N1.379 per Dolar, Likuiditas Valas Mengetat
Baca dalam 60 detik
- Naira melemah ke N1.379 per dolar AS pada Jumat lalu karena lonjakan permintaan pembayaran internasional melampaui pasokan valuta asing di pasar resmi.
- Volume transaksi antar bank turun 10% menjadi hanya US$71 juta, sementara total arus masuk valas pekan lalu mencapai US$0,99 miliar dengan investor portofolio asing sebagai kontributor utama.
- Dolar AS menguat terbatas di tengah ketegangan AS-Iran dan ekspektasi hawkish Federal Reserve, menekan mata uang negara berkembang termasuk naira.

Naira Nigeria jatuh ke level terendah baru terhadap dolar Amerika Serikat pada Jumat lalu, ditutup di N1.379 per dolar, setelah permintaan untuk pembayaran internasional melonjak dan melampaui pasokan valuta asing yang tersedia di pasar. Tekanan likuiditas di pasar valas resmi Nigeria (NFEM) semakin terasa, dengan nilai tukar bergerak fluktuatif antara N1.375 dan N1.382 sepanjang hari.
Data Bank Sentral Nigeria menunjukkan volume transaksi antar bank merosot sekitar 10% menjadi hanya US$71,044 juta, turun dari US$78,708 juta pada hari sebelumnya. Jumlah kesepakatan di pasar valas antar bank juga berkurang drastis, dari 106 transaksi pada Kamis menjadi hanya 87 transaksi pada Jumat. Penurunan ini mengindikasikan bahwa likuiditas semakin ketat di tengah permintaan yang terus membesar.
Sepanjang pekan lalu, total arus masuk valas ke Nigeria tercatat US$0,99 miliar, menurut riset anak perusahaan Coronation Merchant Bank. Investor portofolio asing (FPI) mendominasi dengan kontribusi 35,81% atau sekitar US$0,35 miliar. Eksportir menyumbang 28,72% (US$0,28 miliar), Bank Sentral Nigeria hanya 11,15% (US$0,11 miliar), dan korporasi non-bank mencatat 10,92%. Meski ada dukungan dari berbagai sumber, tekanan permintaan tetap tinggi.
Di sisi global, dolar AS menunjukkan penguatan terbatas. Indeks Dolar (DXY) diperdagangkan di kisaran 100,85 setelah sempat menyentuh level terendah satu pekan di 100,60 pada sesi Asia. Pergerakan ini dipengaruhi oleh perkembangan terbaru di Timur Tengah, terutama ketegangan antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengklaim melalui Truth Social bahwa Iran telah meminta untuk melanjutkan perundingan, namun ia juga menegaskan bahwa gencatan senjata telah โberakhir.โ Campuran diplomasi dan ketegangan ini membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap eskalasi lebih lanjut.
Ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap hawkish turut menahan pelemahan dolar. Suku bunga tinggi di AS membuat dolar lebih menarik, sekaligus menekan mata uang negara berkembang seperti naira. Bagi Nigeria, tekanan eksternal ini memperburuk kondisi likuiditas domestik yang sudah ketat, mengingat ketergantungan tinggi pada impor dan arus modal asing.
Konteks Indonesia: Meski tidak langsung terpengaruh, pelemahan naira mencerminkan kerentanan negara berkembang terhadap penguatan dolar dan ketidakpastian global. Indonesia, dengan cadangan devisa yang lebih besar dan kebijakan moneter yang relatif stabil, mungkin tidak mengalami tekanan sebesar Nigeria. Namun, jika dolar terus menguat dan ketegangan geopolitik berlanjut, rupiah juga berpotensi terimbas, terutama jika arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia.
Ke depan, pergerakan naira akan sangat bergantung pada kemampuan Bank Sentral Nigeria menambah pasokan valas, serta arah kebijakan Federal Reserve dan perkembangan situasi geopolitik. Apakah intervensi bank sentral cukup untuk menahan laju pelemahan, atau justru tekanan akan semakin besar jika dolar terus menguat?



