Slaven Bilic Kembali Pimpin Kroasia: Misi Bangkit dari Kegagalan Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Slaven Bilic ditunjuk sebagai pelatih baru Kroasia menggantikan Zlatko Dalic yang mundur setelah tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026.
- Bilic, yang pernah menangani timnas senior Kroasia 2006-2012, diharapkan membawa energi dan pengalaman dari Premier League untuk membangun kembali skuad.
- Tugas pertamanya adalah membawa Kroasia lolos ke Euro 2028, dengan target jangka panjang Piala Dunia 2030.

Slaven Bilic resmi kembali ke kursi pelatih tim nasional Kroasia, menggantikan Zlatko Dalic yang mengundurkan diri setelah kegagalan di Piala Dunia 2026. Federasi Sepak Bola Kroasia mengumumkan penunjukan tersebut pada Senin (13/7), menandai era baru bagi Vatreni yang tengah mencari momentum kebangkitan.
Bilic, 57 tahun, bukanlah wajah baru di skuad Kroasia. Ia pernah menangani tim U-21 sebelum memimpin tim senior selama enam tahun (2006-2012) dengan 65 pertandingan. Kembalinya ia disambut optimisme, terutama karena rekam jejaknya di sepak bola Inggris bersama West Ham United, West Bromwich Albion, dan Watford. Meski demikian, karier terakhirnya di Al Fateh (Arab Saudi) pada 2024 hanya berlangsung semusim dengan 36 laga.
Dalic, pelatih paling sukses Kroasia dengan pencapaian runner-up Piala Dunia 2018, meninggalkan posisi setelah tim tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 oleh Portugal. Kekalahan itu menjadi pukulan telak bagi negara berpenduduk 4 juta jiwa yang selama satu dekade terakhir konsisten bersaing di level tertinggi. Kini, Bilic dituntut mengembalikan kejayaan yang sempat pudar.
Dalam pernyataan resminya, Bilic menekankan kesiapannya menghadapi tantangan. "Saya memiliki keyakinan penuh pada para pemain. Tanggung jawab saya adalah membawa energi, ambisi, dan tekad untuk memastikan Kroasia tetap berada di antara elit sepak bola," ujarnya. Ia juga mengaku lebih matang dan berpengalaman dibandingkan saat pertama kali menangani timnas pada 2006, namun dengan motivasi yang sama untuk melihat Kroasia tetap kuat, berani, dan sukses.
Kembalinya Bilic menarik perhatian karena ia dianggap figur yang dekat dengan generasi emas Kroasia. Sebagai pemain, ia mengoleksi 44 caps dan menjadi bagian penting tim yang meraih peringkat ketiga Piala Dunia 1998. Pengalaman itu diharapkan bisa menular ke skuad saat ini yang masih diperkuat pemain senior seperti Luka Modric, meski usianya sudah 40 tahun. Modric, yang menjadi andalan di lini tengah, kemungkinan akan menjadi jembatan antara generasi lama dan baru.
Bagi Indonesia, pergantian pelatih Kroasia ini bisa menjadi pelajaran tentang manajemen transisi tim nasional. Kroasia, dengan sumber daya terbatas, mampu bertahan di papan atas sepak bola dunia berkat regenerasi yang terencana. Kehadiran Bilic yang paham kultur sepak bola Kroasia dan Inggris diharapkan bisa membawa pendekatan taktis modern. Namun, tantangan terbesarnya adalah menjaga konsistensi prestasi di tengah persaingan ketat Eropa.
Langkah awal Bilic akan diuji pada kualifikasi Euro 2028. Jika gagal, tekanan publik bisa kembali menghantuinya seperti saat ia meninggalkan posisi pada 2012. Pertanyaan besarnya: mampukah Bilic mengulang sukses Dalic, atau justru menjadi awal kemunduran sepak bola Kroasia?



