Liburan ke Yunani Batal, Petenis Inggris Arthur Fery Tembus Semifinal Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Petenis peringkat 114 dunia Arthur Fery menjadi wildcard pertama dalam 25 tahun yang mencapai semifinal Wimbledon, mengubah rencana liburannya ke Yunani.
- Dukungan dari tim sepak bola Inggris, Ratu Camilla, dan Putri Kate mendorong Fery melewati batas kemampuannya, padahal sebelumnya ia hanya menang dua pertandingan di turnamen besar.
- Kenaikan peringkat ke posisi 30-an besar membuka peluang Fery tampil di turnamen ATP penuh dan debut di AS Terbuka, dengan hadiah £900.000 untuk liburan yang lebih mewah.

Petenis Inggris Arthur Fery harus menunda rencana liburan ke Yunani bersama teman-temannya setelah secara mengejutkan menembus semifinal Wimbledon 2024. Pemain berusia 23 tahun yang menempati peringkat 114 dunia itu menjadi wildcard pertama dalam seperempat abad terakhir yang berhasil melaju hingga babak empat besar di turnamen Grand Slam rumput tersebut.
Fery, yang lahir di Prancis dan kini menjadi harapan baru Inggris, mengaku sempat pesimistis bisa melaju jauh. "Saya sebenarnya sudah merencanakan pergi ke Yunani dengan beberapa teman. Kami lihat saja apakah rencana itu masih berlaku," ujarnya usai kekalahan dari Alexander Zverev di semifinal, Jumat (12/7). Namun, perjalanannya justru berubah drastis: ia berhasil mengalahkan lima lawan berturut-turut sebelum akhirnya dihentikan Zverev dalam tiga set langsung.
Yang menarik, tidak semua orang percaya pada kemampuan Fery. "Salah satu teman saya malah berangkat lebih awal ke Yunani, berharap saya kalah cepat. Tapi dua hari kemudian dia kembali dan malah mendukung saya," cerita Fery sambil tertawa. Dukungan publik Inggris pun mengalir deras, termasuk video pesan dari tim sepak bola Inggris, serta kehadiran Ratu Camilla dan Putri Kate di tribun penonton.
Pencapaian ini membuka pintu lebar bagi karier Fery ke depan. Dengan peringkat yang diperkirakan meroket ke posisi 30-an, ia kini memiliki akses langsung ke turnamen-turnamen ATP Tour. "Ini akan mengubah banyak hal. Saya bisa bermain di turnamen setidaknya selama setahun penuh, mudah-mudahan lebih," kata Fery. Ia juga mengakui tantangan baru yang menanti: "Ini akan menjadi ujian bagaimana saya menghadapi perubahan ekspektasi, dari diri sendiri, publik, dan semua orang."
Bagi Indonesia, kisah Fery menjadi pengingat bahwa wildcard atau pemain non-unggulan bisa menjadi ancaman serius di turnamen besar. Di kancah tenis Asia, Indonesia masih berjuang melahirkan petenis yang bisa bersaing di level Grand Slam. Keberhasilan Fery menunjukkan pentingnya pembinaan usia dini dan dukungan turnamen lokal untuk memunculkan bibit unggul. Jika Indonesia ingin memiliki petenis sekaliber Fery, investasi di turnamen ITF dan ATP Challenger menjadi krusial.
Setelah istirahat sejenak, Fery akan bersiap menghadapi musim keras lapangan AS, yang berpuncak pada debutnya di Flushing Meadows. "Saya butuh waktu untuk memproses semua yang terjadi dua pekan ini, lalu kembali berusaha maksimal di setiap pertandingan. Saya merasa nyaman bermain di main draw Grand Slam dan bahkan lebih," pungkasnya. Dengan kantong tebal berisi hadiah semifinalis, Fery setidaknya bisa meningkatkan kelas liburannya—mungkin bukan lagi ke Yunani, tapi ke destinasi yang lebih eksklusif.



