Cruz Hewitt Ikuti Jejak Sang Ayah: Tembus Final Junior Wimbledon 2025
Baca dalam 60 detik
- Cruz Hewitt, putra legenda tenis Lleyton Hewitt, melaju ke final tunggal putra junior Wimbledon setelah menang straight set atas Thijs Boogaard.
- Pencapaian ini terjadi 24 tahun setelah Lleyton Hewitt merebut gelar juara Wimbledon 2002, menandai regenerasi dalam keluarga tenis Australia.
- Final akan mempertemukan Hewitt dengan petenis Amerika Jordan Lee, sekaligus membuka peluang bagi Australia memiliki juara junior Wimbledon pertama sejak 2016.

Dua dekade lebih setelah Lleyton Hewitt mengangkat trofi Wimbledon, putranya kini bersiap menapaki jejak yang sama. Cruz Hewitt, petenis Australia berusia 17 tahun, sukses melaju ke partai final tunggal putra junior Wimbledon 2025 setelah menundukkan wakil Belanda, Thijs Boogaard, dengan skor 6-4, 6-4 di semifinal, Sabtu (12/7).
Kemenangan tersebut merupakan kelima kalinya secara beruntun diraih Cruz tanpa kehilangan satu set pun selama turnamen. Ia hanya sekali dipaksa menjalani tie-break dalam perjalanannya ke final. Konsistensi ini menunjukkan kematangan permainan yang melampaui usianya, sekaligus membuktikan bahwa bakat tenis mengalir deras dalam keluarga Hewitt.
Cruz akan berhadapan dengan petenis Amerika Serikat, Jordan Lee, yang sebelumnya mengalahkan Vincent Reisach dari Jerman 6-3, 6-2. Laga puncak dijadwalkan berlangsung pada Minggu (13/7) di lapangan rumput All England Club. Jika menang, Cruz akan menjadi juara junior Wimbledon pertama asal Australia sejak Alex de Minaur pada 2016.
Kehadiran Lleyton Hewitt di kursi penonton sepanjang turnamen menjadi pemandangan yang mengharukan. Sang ayah, yang kini menjabat sebagai kapten tim Piala Davis Australia, tak pernah absen mendampingi putranya. Lleyton sendiri menjuarai Wimbledon pada 2002 setelah mengalahkan David Nalbandian, dan juga pernah menjadi petenis nomor satu dunia.
Bagi Cruz, atmosfer Wimbledon bukanlah hal asing. Sejak kecil ia sering mendampingi sang ayah bertanding. โSaya selalu ingin menonton semua pertandingan, berada di dekat para pemain Australia. Saya beruntung bisa berada di sini sejak usia muda,โ ujarnya kepada situs resmi Wimbledon. Debutnya di Grand Slam senior terjadi pada Australian Open 2025, meski harus tersingkir di babak pertama kualifikasi.
Pencapaian Cruz ini juga menjadi sorotan bagi perkembangan tenis junior di Indonesia dan Asia Tenggara. Meski belum ada wakil dari kawasan ini yang mencapai final junior Wimbledon dalam beberapa tahun terakhir, kisah Cruz menunjukkan bahwa regenerasi petenis muda dari negara-negara non-tradisional tenis bisa bersaing di level tertinggi. Federasi Tenis Indonesia (PELTI) dapat menjadikan model pembinaan Australia sebagai referensi untuk melahirkan bibit-bibit unggul.
Final junior Wimbledon 2025 tidak hanya menjadi ajang pembuktian bagi Cruz Hewitt, tetapi juga ujian mental menghadapi tekanan sebagai anak legenda. Bisakah ia mengikuti jejak sang ayah dan mengukir namanya sendiri di sejarah Wimbledon? Jawabannya akan terlihat di lapangan tengah, Minggu sore nanti.



