Pulang ke Mesir dengan Kepala Tegak: Timnas Disambut Bak Pahlawan Usai Tembus 16 Besar Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Mesir untuk pertama kalinya dalam sejarah lolos ke babak 16 besar Piala Dunia, memicu sambutan meriah dari ribuan pendukung di Bandara Alamein.
- Pelatih Hossam Hassan mendapat apresiasi khusus karena konsisten membawa bendera Palestina selama turnamen, mencerminkan dukungan terhadap isu kemanusiaan.
- Kontrak Hassan diperpanjang hingga 2030, menandai kepercayaan penuh federasi terhadap proyek jangka panjang sepak bola Mesir.

Ribuan pendukung memadati kawasan Bandara Internasional Alamein, Jumat (10/7), untuk menyambut kepulangan tim nasional sepak bola Mesir yang baru saja menorehkan sejarah di Piala Dunia. Untuk pertama kalinya dalam empat partisipasi, The Pharaohs berhasil menembus babak 16 besar, sebuah pencapaian yang disambut dengan parade bus terbuka dan nyanyian patriotik di sepanjang jalan menuju New Alamein.
Mesir harus mengakui keunggulan Argentina 3-2 di babak gugur setelah sempat unggul 2-0 hingga 11 menit akhir pertandingan. Meski kalah dramatis, semangat juang skuat asuhan Hossam Hassan mendapat pujian luas. Sebelumnya, Mesir mengalahkan Selandia Baru di fase grup dan menyingkirkan Australia lewat adu penalti di babak 32 besar. Capaian ini menjadi yang terbaik dalam sejarah sepak bola Mesir di ajang empat tahunan tersebut.
Presiden Abdel Fattah al-Sisi dijadwalkan menerima langsung tim dan staf pelatih pada Sabtu (11/7). Momen ini menegaskan bahwa prestasi di Piala Dunia menjadi kebanggaan nasional yang melampaui sekadar olahraga. Di tengah euforia, perhatian juga tertuju pada sikap politik pelatih Hossam Hassan yang selama turnamen kerap membawa bendera Palestina dan menyuarakan hak-hak rakyat Palestina dalam konferensi pers. Sejumlah suporter terlihat membawa poster besar Hassan yang dibalut bendera Palestina sebagai bentuk dukungan.
Kepulangan tim ini juga diwarnai keputusan strategis dari Federasi Sepak Bola Mesir yang memperpanjang kontrak Hossam Hassan dan saudara kembarnya, Ibrahim Hassan, yang menjabat sebagai asisten pelatih. Meski federasi tidak merinci durasi kontrak, media lokal melaporkan kesepakatan tersebut berlaku hingga 2030. Sejak ditunjuk pada 2024, Hassan berhasil membawa Mesir ke semifinal Piala Afrika 2025 dan mengakhiri puasa panjang tampil di Piala Dunia. Rekor menterengnya—20 kemenangan, 9 hasil imbang, dan 6 kekalahan—menjadi bukti transformasi positif tim.
Bagi Indonesia, pencapaian Mesir menjadi refleksi menarik. Sepak bola Indonesia masih berjuang untuk konsistensi prestasi di level internasional. Keberhasilan Mesir menunjukkan pentingnya proyek jangka panjang, stabilitas pelatih, dan dukungan penuh federasi. Jika Indonesia ingin menembus Piala Dunia, langkah serupa—mempertahankan pelatih berkualitas dan membangun program berkelanjutan—bisa menjadi kunci. Pertanyaan besarnya: akankah PSSI dan pemangku kepentingan sepak bola nasional belajar dari model Mesir?



