Dari 'Beban Sejarah' ke Mesin Trofi: Inggris Akhirnya Layak Disebut Kandidat Juara
Baca dalam 60 detik
- Inggris mencapai semifinal keempat dalam lima turnamen besar sejak 2016, mengubah status dari tim penggembira menjadi pesaing reguler.
- Transformasi ini didorong oleh investasi akar rumput senilai £340 juta melalui program EPPP yang mulai menuai hasil dengan lahirnya bintang seperti Bellingham dan Saka.
- Thomas Tuchel kini dituntut mengakhiri puasa gelar pria Inggris dengan mengalahkan Argentina di semifinal, setelah tim wanita sukses merebut dua gelar Euro beruntun.

Jude Bellingham memastikan tiket Inggris ke semifinal Piala Dunia setelah gol di masa perpanjangan waktu membungkam Norwegia 2-1, Sabtu lalu. Kemenangan dramatis ini bukan sekadar langkah menuju partai puncak, melainkan bukti bahwa Tim Tiga Singa kini menjelma menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan secara konsisten—sebuah status yang sepuluh tahun lalu terasa mustahil.
Untuk memahami seberapa jauh perubahan ini, cukup lihat catatan turnamen Inggris sebelum 2018. Dalam 68 tahun sejak Piala Dunia 1950, Inggris hanya sekali mencapai final dan tiga kali semifinal—dua di antaranya saat menjadi tuan rumah. Era 'generasi emas' dengan David Beckham, Wayne Rooney, dan Frank Lampard bahkan tak mampu menembus semifinal. Kekalahan memalukan dari Islandia di babak 16 besar Euro 2016 menjadi titik nadir.
Namun, sejak Euro 2016, Inggris mencatatkan empat semifinal dalam lima turnamen—rekor yang hanya dilampaui Argentina dan Prancis yang sudah memenangi gelar. Gareth Southgate membawa Inggris ke final Euro 2021 dan 2024, meski gagal di kedua kesempatan. Kini, Thomas Tuchel, pelatih asal Jerman yang mengambil alih setelah Southgate, dihadapkan pada tantangan yang sama: mengubah konsistensi menjadi trofi.
Transformasi ini bukan kebetulan. Pada 2013, Greg Dyke, ketua FA saat itu, melontarkan kritik pedas terhadap struktur sepak bola Inggris yang dinilai gagal menghasilkan pemain lokal. Ia menargetkan Inggris mencapai semifinal Euro 2020 dan memenangi Piala Dunia 2022. Banyak yang mencemooh, namun target itu nyaris terwujud. Dua fondasi utama sudah diletakkan: program Elite Player Performance Plan (EPPP) senilai £340 juta yang disetujui klub-klub EFL pada 2011, dan pusat pelatihan St George's Park yang dibuka pada 2012 setelah 11 tahun perencanaan.
EPPP merevolusi akademi klub dengan standar fasilitas, pelatih, dan staf pendukung kelas dunia. Hasilnya kini terlihat: Jude Bellingham (23 tahun), Declan Rice, Bukayo Saka, dan Elliot Anderson adalah produk langsung EPPP. Kedalaman skuad Inggris sedemikian rupa sehingga Trent Alexander-Arnold, Cole Palmer, dan Phil Foden—tiga pemain yang menjadi bagian dari skuad final Euro 2024—bisa ditinggalkan tanpa menurunkan kualitas. Tuchel bahkan mampu membawa Inggris ke semifinal tanpa mereka.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Inggris ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya investasi jangka panjang pada pembinaan usia muda. Di tengah hiruk-pikuk Liga 1 dan perdebatan naturalisasi, model EPPP menunjukkan bahwa konsistensi prestasi tidak bisa dibangun dalam semalam. Indonesia yang tengah mengembangkan program Liga 1 U-20 dan akademi klub bisa menimba inspirasi dari transformasi FA yang memakan waktu lebih dari satu dekade.
Lagu "Three Lions" yang dulu melantunkan "England's gonna throw it away" seolah kehilangan relevansi. Di turnamen ini, lagu "Wonderwall" oleh Oasis dan "Silence Is Talking" oleh Reverend & The Makers justru lebih sering terdengar di tribun. Pergeseran ini menandakan bahwa fans Inggris kini percaya pada kemampuan tim, bukan sekadar berharap pada keberuntungan. Kemenangan 3-2 atas tuan rumah Meksiko dengan sepuluh pemain setelah kartu merah Jarell Quansah menjadi bukti mentalitas baru: tim ini tidak mudah runtuh.
Tuchel kini harus melewati ujian terbesar: Argentina dan Lionel Messi di semifinal. Jika berhasil, Inggris akan melaju ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam sejarah. Namun, seperti diingatkan Harry Kane, semifinal dan final hanyalah bagian dari cerita. Gelar juara adalah satu-satunya yang hilang dari lemari trofi pria Inggris. Dengan tim wanita yang sudah meraih dua gelar Euro beruntun dan menjadi runner-up Piala Dunia 2023, tekanan untuk menyamai prestasi itu semakin besar. Bisakah Tuchel memutus kutukan dan membawa pulang trofi? Atau akankah Inggris kembali menjadi 'hampir juara'?



