ICC Hentikan Investigasi Video Pensiun Stokes, ECB Bebas Sanksi
Baca dalam 60 detik
- Dewan Kriket Internasional memutuskan tidak menjatuhkan sanksi kepada ECB terkait video pengumuman pensiun Ben Stokes yang direkam di ruang ganti.
- Video yang dirilis saat pertandingan berlangsung sempat dianggap melanggar aturan anti-korupsi PMOA, namun ECB telah memberikan klarifikasi.
- Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kepatuhan terhadap protokol siaran di area terlarang, terutama bagi federasi kriket di negara berkembang.

Dewan Kriket Internasional (ICC) memutuskan untuk tidak mengambil tindakan terhadap England and Wales Cricket Board (ECB) terkait kontroversi video pengumuman pensiun Ben Stokes yang direkam di ruang ganti pemain. Keputusan ini mengakhiri spekulasi mengenai potensi sanksi yang membayangi federasi kriket Inggris tersebut.
Video yang memperlihatkan Stokes memberi tahu rekan setimnya tentang keputusan pensiun setelah Tes ketiga melawan Selandia Baru itu direkam di ruang ganti Inggris di Trent Bridge, sebelum hari keempat pertandingan. Rekaman tersebut kemudian dibagikan kepada penyiar dan media sosial saat pertandingan masih berlangsung. Langkah ECB ini dinilai berpotensi melanggar standar area pemain dan ofisial pertandingan (PMOA) yang dirancang untuk mendukung protokol anti-korupsi.
ICC telah mengirimkan surat kepada ECB pada 4 Juli lalu, menyebut adanya dugaan pelanggaran terhadap pasal 2.2.11 standar minimum PMOA. Aturan tersebut secara tegas melarang pemasangan kamera video tetap atau sementara di ruang ganti yang digunakan tim untuk tujuan menyiarkan rekaman video atau audio. ICC juga mengingatkan bahwa ECB sebelumnya telah diberitahu bahwa setiap rekaman yang diambil di PMOA tidak boleh menyertakan audio atau dirilis sebelum pertandingan usai.
Menanggapi pemberitaan mengenai surat ICC tersebut, Stokes dengan nada bercanda menulis di media sosial, "Pecat dia." Namun, di balik candaan itu, kasus ini menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap aturan siaran di area terlarang. ECB kemudian membalas surat ICC dan masalah tersebut diselesaikan secara damai, tanpa ada komentar resmi dari kedua belah pihak.
Bagi Indonesia, yang tengah mengembangkan olahraga kriket, kasus ini menjadi pelajaran berharga. Federasi Kriket Indonesia (FKI) dapat mengambil contoh pentingnya menjaga integritas pertandingan dengan mematuhi standar internasional, terutama dalam hal pengelolaan area sensitif seperti ruang ganti. Pelanggaran serupa, meski tidak disengaja, dapat mencoreng citra dan berpotensi menghambat upaya pengembangan kriket di tanah air.
Stokes sendiri menjelaskan bahwa pengumuman pensiunnya yang dilakukan saat pertandingan berlangsung merupakan hasil koordinasi antara agennya dan ECB. "Saya hanya bilang, 'Kalian bekerja dengan Michael Lumb dan Neil Fairbrother, yang bekerja dengan saya, dan kalian buat rencana,'" ujar pemain serba bisa tersebut. Momen dramatis terjadi ketika Stokes, yang sedang dalam giliran bowling, mengambil gawang Zak Foulkes pada lemparan pertamanya setelah berita pensiunnya menyebar. Tes tersebut, dan karier internasional Stokes, baru berakhir pada hari berikutnya.
Ke depan, kasus ini membuka pertanyaan mengenai sejauh mana federasi kriket nasional dapat berinovasi dalam konten media tanpa melanggar protokol yang ketat. Akankah ICC memperketat pengawasan atau justru melonggarkan aturan demi menarik minat penggemar? Jawabannya masih harus dinanti.



