Penyesalan Usai Tembak Mati Aktivis Pro-Trump: Rekan Sekamar Buka Suara di Pengadilan
Baca dalam 60 detik
- Mantan rekan sekamar Tyler Robinson mengaku terdakwa menangis dan menyesali penembakan terhadap aktivis konservatif Charlie Kirk sehari setelah kejadian.
- Rekaman wawancara Lance Twiggs dengan jaksa menjadi alat bukti kunci dalam sidang pendahuluan yang menentukan apakah Robinson akan diadili atas tujuh dakwaan, termasuk pembunuhan berat.
- Kasus ini menyoroti meningkatnya kekerasan politik di AS dan memicu perdebatan tentang motif ideologis di balik serangan terhadap tokoh publik.

Sehari setelah menembak mati aktivis konservatif Charlie Kirk di depan ribuan mahasiswa, Tyler Robinson mengaku menyesali perbuatannya dan berencana menyerahkan diri. Pengakuan itu disampaikan mantan rekan sekamar sekaligus kekasihnya, Lance Twiggs, dalam rekaman wawancara yang diputar di pengadilan Utah, Kamis (9/7).
Twiggs, yang mendapat kekebalan hukum atas kesaksiannya, mengatakan Robinson kembali ke rumah kontrakan mereka di St George pada pagi hari setelah penembakan. Saat ditanya langsung, Robinson mengaku bersalah dan menangis. โDia bilang berharap tidak melakukannya,โ ujar Twiggs kepada jaksa Utah County, Ryan McBride, dalam wawancara 20 April lalu.
Robinson, yang saat itu tengah menempuh pendidikan sebagai teknisi listrik, menghadapi tujuh dakwaan termasuk pembunuhan berat. Jaksa menuntut hukuman mati. Ia belum mengajukan pembelaan. Sidang pendahuluan yang berlangsung sepekan ini menjadi ajang adu argumentasi antara jaksa dan pengacara Robinson mengenai bukti apa yang sah diajukan ke pengadilan.
Kasus ini menjadi salah satu yang paling menonjol di tengah rentetan serangan terhadap politikus dan tokoh terkemuka di Amerika Serikat, yang meningkatkan kekhawatiran akan kekerasan politik. Kirk dikenal sebagai sekutu dekat Presiden Donald Trump dan sering melontarkan pandangan kontroversial. Dalam pesan teks yang diajukan jaksa, Robinson menjawab pertanyaan Twiggs mengapa ia menembak Kirk: โAku muak dengan kebenciannya. Sebagian kebencian tidak bisa dinegosiasikan.โ
Pengacara Robinson membantah motif politik dan berupaya membatasi penggunaan bukti yang mengarah pada alasan ideologis, karena dapat memperkuat argumen jaksa untuk menuntut hukuman mati. Mereka juga menuding polisi gagal menyelidiki kemungkinan pelaku lain. Sementara itu, pengacara janda Kirk, Erika Kirk, mendesak agar seluruh bukti diputar di ruang sidang. โKeluarga Kirk sudah menunggu 10 bulan untuk sidang ini. Mereka berhak mendengar buktinya,โ kata Jeffrey Neiman.
Hakim Tony Graf memerintahkan sebagian rekaman wawancara Twiggs diredam karena khawatir dapat memengaruhi calon juri. Sidang pendahuluan akan berakhir Jumat (10/7), diikuti penyerahan argumen tertulis sebelum sidang lanjutan 1 September. Pertanyaan besarnya: akankah pengadilan mengizinkan motif politik sebagai dasar tuntutan hukuman mati, atau justru membuka celah bagi pembelaan bahwa Robinson bertindak karena tekanan pribadi?



