WN Kanada Tewas di Bali: Diduga Bunuh Diri dengan Senjata Api, Riwayat Paranoid Terungkap
Baca dalam 60 detik
- Seorang warga negara Kanada berusia 46 tahun ditemukan tewas di vila Jimbaran, Bali, akibat luka tembak yang diduga dilakukan sendiri.
- Korban memiliki riwayat tiga kali percobaan bunuh diri di Jakarta dan didiagnosis paranoid, menurut keterangan saksi.
- Polisi masih menyelidiki asal-usul senjata api yang digunakan, sementara keluarga di Kanada telah diberitahu.

Seorang pria warga negara Kanada berinisial AJK (46) ditemukan tewas dengan luka tembak di sebuah vila di Jimbaran, Bali, pada Senin (6/7) siang. Polisi menduga kuat korban mengakhiri hidupnya sendiri menggunakan senjata api, menguak rangkaian kegelisahan yang sudah lama membayangi kehidupannya.
Kepala Bidang Humas Polda Bali, Kombes Pol Ariasandy, mengungkapkan bahwa jasad korban pertama kali ditemukan oleh rekannya, BJ, yang datang ke vila setelah gagal menghubungi AJK sejak pagi. Sebelumnya, BJ berjanji mengantarkan sepeda motor ke tempat korban menginap. Ketika pintu vila dalam keadaan terkunci dan tidak ada respons, BJ bersama seorang pegawai memutuskan mendobrak masuk. Di dalam, mereka mendapati AJK terbaring di sofa dengan luka berdarah akibat tembakan.
Kronologi ini terkuak setelah seorang pegawai bernama DE diperintahkan BJ untuk mengecek kondisi korban sekitar pukul 14.00 Wita. DE mendapati pintu terkunci dan segera melapor. BJ yang datang kemudian mendobrak pintu karena khawatir terjadi sesuatu. Staf BJ yang mendampingi langsung melaporkan kejadian tersebut ke polisi. Olah tempat kejadian perkara dilakukan oleh tim identifikasi Polresta Denpasar, Polda Bali, dan Laboratorium Forensik Polda Bali pada pukul 19.00 Wita.
Keterangan dari saksi BJ mengungkap sisi gelap kehidupan AJK. Korban sempat tinggal di Jakarta dan diketahui pernah melakukan tiga kali percobaan bunuh diri yang berujung pada perawatan rumah sakit. Selain itu, AJK diduga mengidap paranoid. Pesan terakhir korban kepada BJ sebelum kejadian adalah agar menghubungi ibunya di Kanada jika terjadi sesuatu padanya. Pesan itulah yang kemudian ditindaklanjuti saksi dengan menghubungi keluarga korban.
Dua saksi lain, RI dan AF yang bertugas sebagai petugas keamanan vila, mengaku sempat diminta istri korban di Jakarta untuk mengecek kondisi AJK. Namun, karena pintu vila tertutup dan terkunci, serta tidak ada jawaban setelah digedor, mereka memutuskan kembali ke pos kerja. Saksi terakhir melihat korban masuk ke area vila pada Minggu (5/7) sekitar pukul 15.00 Wita menggunakan sepeda motor X-Max.
Peristiwa ini menyoroti pentingnya penanganan kesehatan mental, terutama bagi warga asing yang tinggal sendiri di Indonesia. Polisi masih menyelidiki asal-usul senjata api yang digunakan korban, mengingat kepemilikan senjata api di Indonesia sangat ketat. Pertanyaan besar kini mengemuka: bagaimana seorang warga negara asing bisa memiliki akses ke senjata api di Bali, dan apakah ada pihak lain yang terlibat?



