Nathan De Cat: Remaja Belgia 17 Tahun yang Mengguncang Bundesliga
Baca dalam 60 detik
- Nathan De Cat, gelandang 17 tahun asal Belgia, resmi bergabung dengan Hoffenheim setelah musim gemilang bersama Anderlecht.
- Ia dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Liga Pro Belgia dan Pemain Terbaik Anderlecht, dengan torehan 3 gol dan 5 assist dalam 46 laga.
- De Cat memilih Hoffenheim di tengah minat klub Eropa lainnya, menandai kepercayaan pada proyek jangka panjang klub Bundesliga tersebut.

Nathan De Cat, gelandang muda Belgia yang baru berusia 17 tahun, resmi menandatangani kontrak lima tahun dengan TSG Hoffenheim setelah musim debut yang sensasional bersama Anderlecht. Pemain jebolan akademi Anderlecht ini langsung menjadi sorotan setelah dinobatkan sebagai Pemain Muda Terbaik Liga Pro Belgia dan Pemain Terbaik Anderlecht musim 2025/26.
De Cat memulai debut profesionalnya di Liga Pro Belgia delapan hari setelah ulang tahunnya yang ke-17 pada Juli 2025. Ia langsung memberikan assist pada laga pembuka musim 2025/26 melawan Westerlo. Dengan tinggi 191 cm, gelandang serba bisa ini mencatatkan tiga gol dan lima assist dalam 46 pertandingan di semua kompetisi. Penampilannya yang konsisten membuatnya dipanggil ke tim nasional Belgia oleh pelatih Rudi Garcia pada Maret 2026, debut melawan Amerika Serikat.
Meskipun gagal masuk skuad Belgia untuk Piala Dunia 2026, De Cat tetap menjadi salah satu prospek paling menarik di Eropa. Kepindahannya ke Hoffenheim mengejutkan banyak pihak, mengingat ia juga diminati klub-klub besar Eropa lainnya. Direktur olahraga Hoffenheim, Andreas Schicker, menyatakan kebanggaannya karena pemain sekaliber De Cat memilih bergabung dengan klubnya.
Gaya bermain De Cat sering dibandingkan dengan gelandang Bayern Munich, Leon Goretzka. Meski tidak sefisik Goretzka, postur panjang De Cat memungkinkannya melewati lawan dan menghubungkan lini tengah dengan serangan. Ia memulai karier sebagai gelandang bertahan, namun musim ini ia lebih sering dimainkan sebagai gelandang serang. Kemampuan membawa bola, visi, dan rentang operannya dinilai sudah matang untuk usianya.
De Cat mengidolakan gelandang Manchester City, Rodri, dan gelandang Arsenal, Declan Rice. "Untuk mencapai level itu, saya harus bekerja keras," ujarnya kepada Nieuwsblad. Mantan kiper Anderlecht, Frank Boeckx, melihat De Cat sebagai perpaduan antara Leander Dendoncker dan Youri Tielemans. "Secara defensif, ia luar biasa kuat. Ia memilih posisi dengan bijak, tapi De Cat bisa melakukan lebih dari itu," kata Boeckx.
Bagi sepak bola Indonesia, kisah De Cat menjadi contoh bagaimana akademi klub dapat melahirkan talenta kelas dunia. Anderlecht, yang dikenal sebagai salah satu penghasil pemain terbaik Belgia, kembali membuktikan konsistensinya. Keberanian De Cat memilih Hoffenheimโklub yang dikenal sebagai batu loncatan pemain mudaโbisa menjadi inspirasi bagi pesepakbola muda Indonesia untuk tidak takut merantau ke liga Eropa demi pengembangan karier.
Dengan kontrak lima tahun, Hoffenheim jelas berinvestasi jangka panjang pada De Cat. Pertanyaannya, mampukah ia mengikuti jejak kompatriotnya seperti Vincent Kompany, Youri Tielemans, atau Romelu Lukaku yang sukses di panggung Eropa? Atau akankah ia menjadi bintang baru yang bersinar di Bundesliga? Waktu yang akan menjawab.



