Zuffa Boxing Rekrut Shakur Stevenson, Petinju Empat Divisi Siap Guncang Dunia Tinju
Baca dalam 60 detik
- Shakur Stevenson, petinju Amerika yang tak terkalahkan dalam 25 pertandingan, resmi bergabung dengan Zuffa Boxing, promotor baru yang didanai Arab Saudi.
- Langkah ini menandai ekspansi agresif Zuffa Boxing yang ingin menyaingi promotor mapan dengan model bisnis ala UFC, termasuk mengubah regulasi tinju AS.
- Indonesia sebagai pasar tinju potensial bisa merasakan dampak jika Zuffa Boxing membawa pertarungan besar ke Asia, mengingat popularitas tinju di Tanah Air.

Petinju kelas welter ringan WBO, Shakur Stevenson, resmi menandatangani kontrak dengan Zuffa Boxing, promotor yang digawangi Dana White dan didukung dana Arab Saudi. Kepastian ini diumumkan langsung oleh White pada Selasa (18/3/2025), menandai perburuan bintang tinju dunia oleh organisasi yang ingin mengubah peta persaingan olahraga tinju profesional.
Stevenson, yang belum pernah kalah dalam 25 pertarungan profesional, terakhir naik ring pada Februari lalu saat mengalahkan Teofimo Lopez untuk merebut sabuk WBO. Petinju 29 tahun itu sebelumnya telah menjadi juara dunia di empat kelas berbeda: kelas bulu, super bulu, ringan, dan welter ringan. Prestasi Olimpiade perak 2016 di Rio de Janeiro juga melekat pada namanya.
โSaya akan menghadapi siapa pun, satu per satu, dan mengalahkan semua petinju top,โ ujar Stevenson dalam pernyataan resmi. โDengan Zuffa Boxing, saya akan mengejar pertarungan terbesar dan menjadi petinju nomor satu pound-for-pound di dunia.โ
Zuffa Boxing, yang didirikan Dana White dengan suntikan dana dari Arab Saudi, telah menjadi ancaman serius bagi promotor tradisional. Langkah pertama mereka yang mengejutkan adalah merekrut petinju Inggris Conor Benn dari Matchroom milik Eddie Hearn pada Februari lalu. Kini, dengan bergabungnya Stevenson, Zuffa Boxing semakin memperkuat lini depan mereka. Selain Benn dan Stevenson, mereka juga telah mengontrak juara dunia kelas penjelajah IBF, Jai Opetaiaโyang kehilangan gelarnya setelah pindahโdan sejumlah petinju lain.
Yang menjadi perhatian adalah ambisi Zuffa Boxing untuk mengubah aturan main tinju di Amerika Serikat. White dan timnya mendorong amendemen Muhammad Ali Reform Act, undang-undang yang mengatur promosi tinju, agar mereka bisa menjalankan model bisnis ala UFC. Model itu memungkinkan Zuffa Boxing berperan sebagai promotor sekaligus badan sanksi yang memiliki gelar juara dunia sendiri. Jika berhasil, ini akan mengubah total ekosistem tinju global.
Konsekuensi langsung bagi Stevenson: belum jelas apakah ia akan kehilangan sabuk WBO-nya seperti yang dialami Opetaia. Organisasi tinju dunia biasanya tidak mengakui petinju yang terikat dengan promotor yang juga berfungsi sebagai badan sanksi. Namun, Stevenson tampak tidak khawatir. โSaya akan menjadi yang terbaik, apa pun yang terjadi,โ tegasnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang baru. Tinju masih memiliki basis penggemar besar di Tanah Air, terutama setelah kesuksesan petinju seperti Chris John dan Daud Yordan. Jika Zuffa Boxing berekspansi ke Asia, bukan tidak mungkin pertarungan besar seperti Stevenson vs Benn atau laga perebutan gelar lainnya bisa digelar di Jakarta atau kota besar lain. Pasar Asia Tenggara yang belum tergarap maksimal oleh promotor tinju bisa menjadi lahan subur bagi Zuffa Boxing.
Langkah Zuffa Boxing juga memicu pertanyaan tentang masa depan tinju profesional: apakah model terpusat seperti UFC akan mendominasi, atau justru mematikan keberagaman promotor yang selama ini menjadi ciri khas tinju? Yang jelas, dengan masuknya pemodal besar dan figur kontroversial seperti Dana White, peta persaingan tinju dunia tengah bergeser. Stevenson, dengan bakat dan ambisinya, menjadi pion dalam permainan besar ini.



