Penjual Tahu di Tokyo: Menyambung Hidup Lansia di Tengah Krisis Kesepian
Baca dalam 60 detik
- Akiko Sugaya, penjual tahu keliling di Tokyo, telah menjadi penyelamat sosial bagi lansia yang rentan meninggal sendirian.
- Selama 23 tahun, ia memeriksa kondisi pelanggan lanjut usia, menemukan beberapa di antaranya sudah tak bernyawa.
- Fenomena kodokushi (kematian sendirian) di Jepang mendorong peran informal seperti Sugaya semakin krusial.

Di gang-gang sempit Tokyo timur, suara klakson kecil dari terompet kuningan menandai kedatangan Akiko Sugaya. Wanita berusia 58 tahun itu mendorong gerobak merah mudanya yang sarat dengan tahu—makanan pokok kaya protein di Asia. Namun, misinya jauh lebih besar dari sekadar menjual tahu.
Sugaya adalah penghubung sosial bagi warga lansia di kawasan Ojima. Ia hafal kebiasaan pelanggannya seperti anggota keluarga sendiri. Selama 23 tahun berjualan, ia telah kehilangan beberapa pelanggan tua yang meninggal sendirian—fenomena yang dikenal sebagai kodokushi, yang semakin umum di Jepang dengan populasi tertua di dunia.
"Lebih dari sekali saya yang pertama kali menemukan jenazah mereka," ujar Sugaya di toko kecilnya yang juga ia kelola di jalan perbelanjaan sibuk. Ia menambahkan bahwa di area perumahan padat, banyak lansia yang tidak mengunci pintu, sehingga ia bisa masuk dengan bantuan pemilik rumah atau melihat tanda-tanda seperti koran menumpuk dan jemuran tak diambil.
Bagi Sugaya, pekerjaan ini bukan sekadar mata pencaharian. Ia mengaku pernah di-bully di sekolah dan dipecat dari beberapa pekerjaan sebelum menemukan bahwa menjual tahu keliling menyelamatkan harga dirinya. "Berjualan tahu dengan gerobak membuat saya merasa bahwa saya boleh menjadi diri sendiri," katanya. "Dulu saya terus-menerus direndahkan, tetapi melalui penjualan keliling, saya membangun kepercayaan diri."
Pelanggan setianya, Shinji Saito yang menderita epilepsi, menyebut kepribadian Sugaya yang menerima sebagai "magis". Sementara Toshi Niiyama, pelanggan lain, mengaku rela menunggu kedatangan Sugaya meski sedang membutuhkan tahu. "Dulu ada penjual sayur keliling, tapi sekarang sudah tidak ada lagi," ujarnya.
Di era digital, interaksi manusia semakin langka. Sugaya menyayangkan bahwa pengiriman koran atau tahu yang dulu menjadi bagian kehidupan sehari-hari kini digantikan aplikasi dan ponsel pintar. "Di konveniens store, Anda menekan tombol di layar tanpa mengucapkan salam. Itu membuat Anda hampa," katanya.
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, yang juga menghadapi penuaan populasi. Menurut data BPS, jumlah lansia Indonesia diperkirakan mencapai 20% pada 2045. Minimnya intervensi sosial dan infrastruktur pendukung bisa memicu masalah serupa. Peran informal seperti Sugaya—atau di Indonesia bisa berupa penjual sayur keliling, tukang jamu, atau petugas pos—menjadi jaring pengaman sosial yang tak tergantikan.
Ke depan, dengan makin banyaknya lansia yang tinggal sendiri, apakah masyarakat siap menghadapi gelombang kesepian ini? Sugaya telah membuktikan bahwa sentuhan manusia dalam transaksi sederhana bisa menjadi penyelamat—baik bagi yang dilayani maupun yang melayani.



