Tencent Incar Saham Mayoritas Manus: Alternatif di Tengah Blokade Meta oleh Beijing
Baca dalam 60 detik
- Raksasa teknologi China, Tencent, dikabarkan tengah bernegosiasi untuk menjadi pemegang saham terbesar startup AI Manus.
- Langkah ini muncul setelah Beijing memerintahkan Meta untuk membatalkan akuisisi Manus senilai USD 2 miliar, membuka peluang bagi investor lokal.
- Jika terealisasi, akuisisi ini akan memperkuat dominasi Tencent di sektor kecerdasan buatan China dan mempengaruhi peta persaingan AI global.

Tencent Holdings dikabarkan tengah menjajaki negosiasi untuk menjadi pemegang saham terbesar startup kecerdasan buatan (AI) Manus, menyusul keputusan Beijing yang memerintahkan Meta untuk membatalkan akuisisi senilai USD 2 miliar terhadap perusahaan rintisan tersebut. Langkah ini menjadi sinyal baru dalam dinamika investasi AI di China, di mana regulator semakin ketat mengawasi kepemilikan asing di sektor teknologi strategis.
Menurut laporan Financial Times yang mengutip dua sumber yang mengetahui langsung pembicaraan tersebut, Tencent berupaya memanfaatkan celah yang ditinggalkan oleh Meta setelah Beijing melarang raksasa media sosial Amerika itu menyelesaikan akuisisi atas Manus. Keputusan Beijing itu sendiri merupakan bagian dari kampanye yang lebih luas untuk melindungi kepentingan nasional dan mencegah dominasi asing di bidang AI, yang dianggap sebagai prioritas pembangunan China.
Manus, yang berbasis di Beijing, dikenal sebagai pengembang model AI generatif yang digunakan dalam berbagai aplikasi, mulai dari asisten virtual hingga analisis data perusahaan. Dengan investasi Tencent, Manus diproyeksikan mendapatkan akses ke sumber daya komputasi dan jaringan distribusi yang lebih luas, mempercepat komersialisasi teknologinya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki implikasi strategis. Sebagai salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia kerap menjadi ajang persaingan antara ekosistem teknologi China dan Amerika. Jika Tencent berhasil menguasai Manus, maka produk-produk AI yang dikembangkan kemungkinan akan lebih mudah diadopsi di Indonesia melalui jaringan investasi Tencent yang sudah ada, seperti GoTo dan berbagai startup lokal. Hal ini bisa memperkuat pengaruh teknologi China di Indonesia, sekaligus menekan dominasi platform AS seperti Google dan Microsoft.
Analis menilai langkah Tencent ini juga merupakan respons terhadap ketidakpastian regulasi di AS dan Eropa, yang semakin membatasi akuisisi perusahaan AI oleh raksasa teknologi China. Dengan mengakuisisi saham mayoritas Manus, Tencent tidak hanya mengamankan aset intelektual berharga, tetapi juga memperkuat posisinya dalam rantai pasok AI global yang semakin terfragmentasi.
โTencent melihat peluang emas di tengah kekosongan yang ditinggalkan Meta. Ini bukan sekadar investasi, tetapi langkah strategis untuk menguasai teknologi inti AI di China,โ ujar seorang analis teknologi yang enggan disebutkan namanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana respons regulator China terhadap akuisisi ini. Meskipun Tencent adalah perusahaan domestik, otoritas antitrust China tetap akan mengawasi ketat agar tidak terjadi monopoli yang menghambat inovasi. Apakah langkah Tencent ini akan memicu gelombang konsolidasi serupa di sektor AI China? Atau justru memicu reaksi balik dari AS yang semakin memperketat kontrol ekspor teknologi? Jawabannya akan menentukan arah persaingan AI global dalam beberapa tahun ke depan.



