NLNG Desak Komersialisasi Gas Terdampar dan Insentif PIA: Peluang Investasi Menguap
Baca dalam 60 detik
- NLNG memperingatkan potensi defisit pasokan gas Nigeria pada 2030 jika cadangan spekulatif tidak segera dikonversi menjadi terbukti bankable.
- Perusahaan mendorong pengembangan infrastruktur bersama dan pemanfaatan insentif PIA untuk menarik modal investor.
- Pasokan LPG domestik NLNG mencapai 520.000 ton pada akhir 2025, dengan rencana mengalihkan sebagian volume ekspor ke pasar lokal.

Nigeria Liquefied Natural Gas Limited (NLNG) mendesak pemerintah dan pelaku industri untuk segera mengkomersialkan sumber gas yang selama ini terdampar, membangun infrastruktur yang saling terhubung, serta merealisasikan insentif yang dijanjikan dalam Undang-Undang Industri Perminyakan (PIA). Tanpa langkah konkret, proyeksi menunjukkan Negeri Seribu Daya itu bisa menghadapi defisit pasokan gas pada 2030โsebuah ironi di tengah cadangan raksasa yang belum tergarap optimal.
Dalam sesi panel Nigeria Oil and Gas (NOG) Energy Week di Abuja, General Manager Commercial NLNG, Timothy Fakrogha, menggarisbawahi bahwa sebagian besar cadangan gas Nigeria masih bersifat spekulatif. โKami memiliki gas berlimpah, tapi belum dikonversi menjadi cadangan terbukti yang bankable. Ini harus segera diubah agar investor bersedia menanamkan modal,โ ujarnya. Menurut dia, celah pasokan yang diproyeksikan justru harus dilihat sebagai peluang, bukan hambatan.
Fakrogha menekankan perlunya pendekatan kolaboratif dalam pembangunan infrastruktur gas. Alih-alih setiap operator membangun fasilitas sendiri-sendiri, Nigeria perlu mengoptimalkan hub gas dan mendorong infrastruktur bersama untuk menekan biaya dan mempercepat pengembangan. Ia mencontohkan sistem transmisi gas (GTS) milik NLNG yang mengagregasi pasokan dari berbagai produsen hulu sebagai model yang bisa direplikasi.
Ia juga mengingatkan investor untuk memanfaatkan insentif yang tersedia dalam PIA dan kebijakan fiskal presiden yang dirancang khusus untuk proyek gas non-associated. โJendela peluang terbuka, tapi tidak akan selamanya. Investor harus bergerak cepat,โ tegasnya.
NLNG juga menyambut positif munculnya proyek LNG baru di berbagai wilayah Nigeria. Menurut Fakrogha, investasi baru akan memperluas kapasitas ekspor sekaligus meningkatkan utilisasi gas di dalam negeri. Ia memuji regulator atas kebijakan yang mendorong pengembangan gas lepas pantai dalam, serta upaya Nigerian Content Development and Monitoring Board (NCDMB) memperpendek waktu kontrak. Kedua langkah itu dinilai akan mempercepat realisasi proyek gas baru.
Soal harga gas domestik, Fakrogha mengingatkan pentingnya keseimbangan. Harga yang diatur harus memberikan imbal balik yang cukup bagi produsen untuk mempertahankan investasi, namun tetap terjangkau bagi pengguna akhir. Saat ini, NLNG mengaku telah menyalurkan seluruh volume LPG yang dialokasikan untuk pasar domestik, dengan komitmen 100 persen pemenuhan kewajiban pasokan lokal.
Bagi Indonesia, pengalaman Nigeria menawarkan pelajaran berharga. Dengan cadangan gas yang melimpah namun infrastruktur yang belum terintegrasi, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam mengoptimalkan gas bumi untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Kebijakan insentif fiskal dan percepatan proyek infrastruktur seperti pipa transmisi bisa menjadi kunci untuk menarik investasi dan menghindari defisit pasokan di masa depan. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan bergerak lebih cepat sebelum jendela peluang investasi gas global tertutup?



