Laba ASABRI Melonjak 158% pada 2025, Aset Tembus Rp55,97 Triliun
Baca dalam 60 detik
- PT ASABRI mencatat laba bersih Rp713,72 miliar pada 2025, didorong hasil investasi dan pasar modal yang kondusif.
- Total aset perseroan naik 12,23% menjadi Rp55,97 triliun, sementara defisit ekuitas menyusut signifikan.
- Program Tabungan Hari Tua masih menjadi tantangan dengan rasio klaim 115,65%, meski jumlah peserta bertambah 4,78%.

PT ASABRI (Persero) membukukan lonjakan laba bersih sebesar 158% pada 2025, mencapai Rp713,72 miliar, didorong oleh kinerja investasi yang kompetitif dan kondisi pasar modal yang mendukung. Pencapaian ini menjadi sinyal pemulihan yang solid bagi BUMN asuransi jiwa dan sosial tersebut setelah tahun sebelumnya mencatat laba Rp275,60 miliar.
Direktur Utama ASABRI, Jeffry Haryadi P. Manullang, mengungkapkan bahwa laba komprehensif perseroan juga melesat 222,02% menjadi Rp529,94 miliar. "Kenaikan ini terutama dikontribusikan oleh hasil investasi yang cukup kompetitif, kondisi pasar modal yang mendukung, serta penerapan PSAK 109," ujarnya dalam rapat dengan Komisi VI DPR RI, Jumat (10/7/2026). Meski demikian, ia menegaskan bahwa faktor dominan tetap berasal dari kinerja investasi dan situasi pasar modal.
Kinerja keuangan yang impresif ini juga tercermin dari pertumbuhan aset. Hingga akhir 2025, total aset ASABRI mencapai Rp55,97 triliun, naik 12,23% dibandingkan tahun sebelumnya. Defisit ekuitas berhasil ditekan dari minus Rp894 miliar menjadi minus Rp363 miliar, menunjukkan perbaikan struktur permodalan. Tingkat solvabilitas melonjak dari 124% menjadi 321%, menandakan kesehatan keuangan yang semakin kokoh.
Dari sisi investasi, yield on investment meningkat menjadi 7,43% dari 4,94%, sementara hasil investasi bersih mencapai Rp985 miliar, naik 56,82% dibandingkan Rp628 miliar pada 2024. Perbaikan ini menunjukkan bahwa ASABRI berhasil memanfaatkan momentum pemulihan pasar modal untuk mengoptimalkan portofolio investasinya.
Namun, di balik kinerja gemilang tersebut, ASABRI masih menghadapi tantangan struktural pada program Tabungan Hari Tua (THT). Sepanjang 2025, perseroan membayarkan 69.749 klaim, dengan 56.000 di antaranya berasal dari program THT. Rasio klaim THT mencapai 115,65%, di mana klaim yang dibayarkan sebesar Rp1,5 triliun melampaui pendapatan premi Rp1,3 triliun. Akibatnya, underwriting margin masih negatif 43,57%. "Program THT masih menjadi momok karena klaim ratio di atas 100%," akui Jeffry.
Jumlah peserta ASABRI tercatat meningkat 4,78% menjadi sekitar 1,55 juta orang, terdiri dari 1,05 juta peserta aktif dan 500 ribu pensiunan. Meski demikian, pertumbuhan ini dinilai belum sesuai proyeksi awal yang mengharapkan tambahan personel lebih besar. "Di tahun 2025 tumbuhnya masih belum agresif sebagaimana yang disampaikan dalam proyeksi," kata Jeffry.
Bagi Indonesia, perbaikan kinerja ASABRI menjadi penting mengingat perannya sebagai penyelenggara program asuransi sosial bagi aparatur sipil negara, TNI, dan Polri. Kenaikan laba dan aset memperkuat kemampuan perseroan dalam memenuhi kewajiban klaim di masa depan. Namun, defisit underwriting pada program THT menandakan perlunya penyesuaian premi atau skema program agar lebih berkelanjutan. Ke depan, ASABRI perlu terus mengoptimalkan hasil investasi sambil mencari solusi struktural untuk menekan rasio klaim THT agar tidak membebani neraca keuangan.



