Dari Listrik Padam di Jakarta, Remaja Ini Bangun Perusahaan Semikonduktor Global
Baca dalam 60 detik
- Sehat Sutardja, pria asal Jakarta, mendirikan Marvell Technology setelah terinspirasi pemadaman listrik di rumahnya pada 1970-an.
- Perusahaan yang dirintis bersama istri dan kakaknya kini bernilai miliaran dolar, menjadi mitra raksasa teknologi global.
- Kisahnya menjadi contoh bagaimana keterbatasan infrastruktur bisa memicu inovasi dan kesuksesan di industri semikonduktor.

Pemadaman listrik yang kerap melanda Jakarta pada era 1970-an menjadi titik awal perjalanan seorang remaja menuju puncak industri semikonduktor dunia. Sehat Sutardja, yang saat itu baru berusia 13 tahun, mengubah kegelapan menjadi laboratorium riset pribadi, hingga akhirnya mendirikan Marvell Technologyโperusahaan dengan kapitalisasi pasar puluhan miliar dolar.
Alih-alih bermain atau mengeluh, Sehat menghabiskan waktu di toko suku cadang mobil milik orang tuanya. Di sana, ia membongkar radio rusak dan mempelajari komponen elektronik. Rasa ingin tahunya yang besar mendorongnya untuk bereksperimen bersama kakaknya, Pantas Sutardja, dengan berbekal majalah sains dan buku pelajaran. Pada usia 13 tahun, ia sudah mengantongi sertifikat teknisi perbaikan radio dan menerima pekerjaan memperbaiki perangkat elektronik tetangga.
Ketertarikan itu membawanya menempuh pendidikan teknik elektro di Iowa State University dan melanjutkan studi magister serta doktor di University of California, Berkeley. Setelah menetap di Amerika Serikat, ia membangun karier di industri semikonduktor sebelum akhirnya mendirikan Marvell Technology pada 1995 bersama sang istri, Weili Dai, dan kakaknya. Bermodal US$350.000 dari keluarga, mereka mengembangkan chip pembaca hard drive yang awalnya diragukan banyak pihak.
Keputusan Sehat untuk fokus pada efisiensi daya dan kinerja tinggi menjadi kunci sukses. Meskipun produk awalnya ditolak pelanggan, keyakinannya pada desain chip yang lebih unggul akhirnya terbukti. Marvell kini menjadi pemasok utama bagi perusahaan teknologi terkemuka, termasuk penyedia layanan cloud dan produsen perangkat penyimpanan. Kesuksesan ini menempatkan Sehat dalam daftar orang terkaya dunia versi Forbes, dengan peringkat ke-2.287 pada 2024.
Bagi Indonesia, kisah Sehat menjadi cermin pahit sekaligus inspirasi. Pemadaman listrik yang dianggap sebagai masalah infrastruktur justru melahirkan inovator kelas dunia. Namun, ironisnya, Sehat harus merantau ke AS untuk mengembangkan potensinya karena minimnya ekosistem riset dan industri semikonduktor di tanah air. Pelajaran ini relevan di tengah upaya pemerintah mendorong hilirisasi dan pengembangan industri teknologi tinggi.
"Dia merasakan kebahagiaan membuat sesuatu berfungsi dengan tangannya sendiri. Melihat sebuah alat buatan sendiri mulai berfungsi adalah perasaan yang tetap melekat dalam dirinya seumur hidup," demikian pengakuan Sehat dalam sebuah wawancara, seperti dikutip Backscoop.
Ke depan, kisah Sehat Sutardja bisa menjadi pendorong bagi generasi muda Indonesia untuk tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi juga pencipta. Pertanyaannya, mampukah Indonesia menciptakan ekosistem yang memungkinkan lahirnya Sehat-Sehat baru di dalam negeri, tanpa harus kehilangan talenta terbaiknya ke luar negeri?



