Kursi Direktur Teknik Juventus Kembali Berganti: Modesto Angkat Kaki Setelah Setahun
Baca dalam 60 detik
- Francois Modesto resmi meninggalkan Juventus setelah hanya 360 hari menjabat, menyusul restrukturisasi manajemen puncak klub.
- Pergantian ini menandai dominasi eksekutif Italia di jajaran direksi, dengan Chiellini, Massara, dan Carnevali mengisi pos kunci.
- Modesto, yang sebelumnya sukses di Monza, gagal mengulang prestasi di Turin dan kini harus mencari tantangan baru.

Francois Modesto resmi berpisah dengan Juventus setelah hanya menjabat sebagai direktur teknik selama 360 hari—tepat sehari kurang dari setahun. Keputusan ini diumumkan klub melalui pernyataan resmi pada Senin (10/7), menandai babak baru dalam restrukturisasi jajaran manajemen senior Si Nyonya Tua.
Modesto, yang direkrut pada 15 Juli 2025 oleh mantan CEO Damien Comolli, menjadi korban dari perubahan haluan strategis klub. Comolli sendiri telah lebih dulu angkat kaki setelah musim 2025/26 yang mengecewakan. Kini, kursi CEO diisi Giovanni Carnevali, sementara Frederic Massara ditunjuk sebagai Chief Football Officer. Marco Ottolini tetap menjabat sebagai sporting director, dan legenda hidup Giorgio Chiellini dipromosikan menjadi Chief Club Affairs Officer.
“Juventus mengumumkan bahwa telah tercapai kesepakatan bersama dengan Francois Modesto untuk mengakhiri posisinya sebagai Direktur Teknis klub, efektif segera,” bunyi pernyataan di situs resmi Juventus. “Klub berterima kasih atas dedikasi dan profesionalisme yang ditunjukkannya selama menjabat, dan mendoakan yang terbaik untuk masa depan profesional dan pribadinya.”
Kepergian Modesto menandai perombakan total di lini direksi olahraga Juventus. Setelah era kegagalan di bawah Comolli, klub memilih mengandalkan figur-figur berdarah Italia yang paham betul kultur klub. Chiellini, yang baru gantung sepatu, dianggap sebagai jembatan antara manajemen dan ruang ganti. Massara, mantan direktur olahraga AC Milan, membawa pengalaman membangun skuad kompetitif dengan budget terbatas.
Bagi Modesto, langkah ini menjadi kemunduran setelah karier cemerlang di Monza. Ia berjasa membawa klub promosi ke Serie A dan membangun skuad yang kompetitif. Namun, di Juventus, ia gagal mereplikasi kesuksesan tersebut. Dalam satu musim, Bianconeri finis di luar zona Liga Champions—sebuah kegagalan yang tak bisa ditoleransi di Turin.
Pertanyaan besarnya kini: akankah era baru manajemen Italia ini mampu mengembalikan kejayaan Juventus? Atau justru sebaliknya, pergantian personel yang terlalu cepat akan membuat klub kehilangan arah? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun satu hal pasti: bursa transfer musim panas ini akan menjadi ujian pertama bagi tim baru di belakang layar.



