Warga China Nekat Bobol Rumah Mewah di Singapura, Raup Rp1,1 Miliar
Baca dalam 60 detik
- Huang Xiaozong, 41 tahun, mengaku bersalah atas dua dakwaan pembobolan rumah di Sentosa dan Serangoon Gardens pada kunjungan pertamanya ke Singapura.
- Ia menargetkan properti kosong di kawasan elite setelah meneliti peta wilayah kaya, mencuri barang senilai S$105.000 (sekitar Rp1,1 miliar).
- Hukuman maksimal 14 tahun penjara menanti Huang, yang dijadwalkan vonis pada 14 Agustus 2026.

Seorang warga negara China yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Singapura justru menjadikan negeri itu sebagai ladang kejahatan. Huang Xiaozong, 41 tahun, dengan sengaja merencanakan pembobolan rumah-rumah mewah di kawasan elite Sentosa dan Serangoon Gardens hanya sehari setelah tiba pada Desember 2025. Total kerugian yang ditimbulkan mencapai S$105.000, setara dengan lebih dari Rp1,1 miliar.
Menurut dokumen pengadilan yang dikutip pada Jumat (10/7/2026), Huang mengaku terkesan dengan kemakmuran Singapura dan langsung berniat mencari uang dengan cara ilegal. Ia bahkan melakukan riset kecil-kecilan untuk mengidentifikasi lingkungan tempat tinggal orang kaya sebelum beraksi. Modus operandinya sederhana: mengincar rumah yang tampak kosong, baik dari lampu yang mati maupun tidak ada aktivitas penghuni.
Pada 6 Desember 2025, Huang mendatangi Sentosa dan menemukan sebuah suite hotel mewah yang kebetulan ditinggalkan pemiliknya yang sedang ke luar negeri. Ia masuk melalui balkon belakang dengan mendobrak pintu geser. Dalam penggeledahan singkat, ia menggondol jam tangan Chanel senilai S$30.000, lima cincin seharga S$25.000, dan kalung emas S$3.000. Barang curian itu langsung dibawa ke hotelnya di Little India. Dua hari kemudian, seorang petugas kebersihan yang masuk ke suite tersebut menemukan jejak kaki dan barang hilang, lalu melapor ke polisi.
Esoknya, 7 Desember 2025, Huang kembali beraksi di Serangoon Gardens. Antara pukul 19.00 dan 20.00, ia memanjat pagar sebuah rumah yang gelap gulita. Di dalam, ia mencuri perhiasan senilai lebih dari S$47.000, termasuk cincin, kalung emas, kalung berlian, anting berlian, dan sepasang cincin kawin. Percobaan kedua di rumah tetangga gagal saat seorang asisten rumah tangga melihatnya dan bertanya. Huang melarikan diri, namun pemilik rumah yang pulang malam itu segera melapor ke polisi. Dengan pelacakan, Huang ditangkap di hotelnya pada 8 Desember 2025.
Kasus ini menarik perhatian publik Singapura karena pelaku adalah turis yang baru pertama kali datang dan langsung menjadikan negara tersebut sasaran kejahatan. Menurut pengamat kriminologi dari Universitas Nasional Singapura, modus seperti ini menunjukkan bahwa kejahatan terencana oleh pelaku asing semakin canggih, memanfaatkan celah keamanan di kawasan residensial elite. Di Indonesia, fenomena serupa juga pernah terjadi di kawasan perumahan mewah seperti Menteng atau Kemang, di mana pelaku melakukan survei terlebih dahulu sebelum beraksi. Hal ini menjadi pengingat bagi pemilik properti untuk meningkatkan sistem keamanan, terutama saat bepergian.
Huang mengaku bersalah atas dua dakwaan pembobolan rumah dan akan menjalani vonis pada 14 Agustus 2026. Dengan ancaman hukuman hingga 14 tahun penjara per dakwaan, ia menghadapi masa hukuman yang panjang. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah hukuman berat ini cukup untuk memberikan efek jera bagi pelaku kejahatan lintas negara yang menargetkan kawasan kaya di Asia Tenggara?



