Bocah 3 Tahun di Jepang Hafal 193 Bendera Negara, Lulus Ujian Sertifikasi Level Tertinggi
Baca dalam 60 detik
- Yuma Maeda, balita asal Kawanishi, Jepang, berhasil lulus ujian nasional level 1 tentang bendera dunia setelah terinspirasi dari kunjungan ke Osaka Expo.
- Ujian yang biasanya diperuntukkan bagi anak kelas 3 SD ke atas ini memiliki versi orangtua-anak yang memungkinkan anak prasekolah berpartisipasi dengan bantuan orangtua menulis jawaban.
- Fenomena ini menunjukkan bagaimana rasa ingin tahu anak dapat menjadi pintu masuk pembelajaran yang efektif, sekaligus membuka peluang bagi pengembangan tes serupa di Indonesia.

Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun di Jepang berhasil lulus ujian sertifikasi level tertinggi untuk pengetahuan bendera negara-negara dunia, sebuah pencapaian yang jarang terjadi pada usia semuda itu. Yuma Maeda, warga Kawanishi, Prefektur Hyogo, bersama ayahnya, Ichihiro, mengikuti ujian versi orangtua-anak pada musim semi lalu dan langsung lulus pada percobaan pertama.
Ketertarikan Yuma pada bendera dunia bermula dari kunjungannya ke Osaka World Exposition pada musim semi tahun lalu. Saat itu, ia bersama ibu dan kedua kakak perempuannya melihat deretan bendera negara di dekat gerbang pintu keluar. Rasa penasarannya muncul ketika ia bertanya tentang bendera Brasil, dan terus berlanjut ke bendera negara lain yang tidak diketahui oleh ibu dan kakaknya. Keluarga itu kemudian membeli buku tentang bendera nasional, dan Yuma mulai mempelajarinya dengan antusias.
Untuk memperdalam pengetahuannya, sang ibu, Asumi, mencarikan berbagai perlengkapan bertema bendera, termasuk pensil dan sapu tangan, serta menemukan situs web yang memungkinkan pembuatan kartu permainan "Kokki Dobble". Permainan ini menggunakan kartu bundar yang masing-masing menampilkan delapan bendera berbeda. Setiap dua kartu selalu memiliki satu bendera yang sama, dan pemain harus menemukan bendera tersebut serta menyebutkan nama negaranya. Dalam waktu kurang dari sebulan, Yuma mampu menyebutkan bendera yang bahkan tidak dikenali oleh anggota keluarganya.
Ujian bendera nasional yang diselenggarakan oleh Association of International Knowledge Dissemination di Tokyo sejak 2011 ini memiliki lima level, dari Level 5 (termudah) hingga Level 1 (tersulit). Untuk lulus Level 1, peserta harus menjawab benar minimal 80 dari 100 soal. Versi standar ujian ditujukan bagi anak kelas 3 SD ke atas, namun versi orangtua-anak yang diperkenalkan pada Agustus 2020 memungkinkan anak prasekolah berpartisipasi dengan bantuan orangtua menuliskan jawaban. Tidak ada batasan usia untuk mengikuti versi ini.
Menurut Ichihiro, perannya dalam ujian hanya menuliskan jawaban yang disebutkan Yuma dalam huruf katakana. "Dia benar-benar hafal dengan baik," ujarnya dengan kekaguman. Di ruang ujian, Ichihiro melihat banyak anak seusia Yuma atau sedikit lebih tua. Yuma tetap fokus selama 40 menit ujian dan berhasil lulus. Keberhasilan ini juga membawa manfaat tak terduga: Yuma belajar membaca katakana secara alami selama proses menghafal bendera. Kini, ketertarikannya meluas ke permainan kartu lain yang mengaitkan bendera dengan data negara seperti luas wilayah, produk domestik bruto, dan populasi.
Fenomena ini menarik perhatian publik Jepang, terutama menjelang musim liburan musim panas. Banyak orangtua mulai melirik berbagai tes sertifikasi yang dapat diikuti anak-anak usia dini, seperti tes angka dan bentuk untuk prasekolah yang diselenggarakan oleh Mathematics Certification Institute of Japan, serta tes keterampilan kendama (mainan tradisional Jepang) yang memiliki tantangan khusus untuk anak prasekolah.
Di Indonesia, tren tes sertifikasi untuk anak usia dini masih terbatas pada bidang akademik seperti calistung atau bahasa Inggris. Namun, kisah Yuma menunjukkan bahwa tes berbasis minat dan permainan dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif. Dengan populasi anak usia dini yang besar, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan tes serupa yang mengedepankan rasa ingin tahu alami anak, misalnya tes pengenalan budaya daerah, flora dan fauna, atau pahlawan nasional. Pertanyaannya, mampukah para pendidik dan orangtua di Indonesia menangkap peluang ini untuk menciptakan generasi yang cerdas dan cinta tanah air sejak dini?



