Topan Bavi Mengancam Asia Timur: 15 Tewas di Filipina, Ribuan Warga Siaga
Baca dalam 60 detik
- Topan Bavi, dengan lebar mencapai 1.000 km, diprediksi menerjang Taiwan, Jepang, dan China selatan setelah menewaskan 15 orang akibat tanah longsor di Filipina.
- Otoritas Taiwan mengerahkan 29.000 tentara siaga, sementara China memperingatkan dampak signifikan di provinsi utara yang kurang berpengalaman menghadapi badai.
- Gangguan transportasi massal terjadi: ratusan penerbangan dibatalkan dan sekolah diliburkan di seluruh kawasan yang terdampak.

Tanah longsor yang dipicu oleh salah satu badai terkuat dalam beberapa dekade terakhir menewaskan sedikitnya 15 orang di Filipina selatan, sementara sebagian Asia Timur bersiap menghadapi Topan Bavi yang mendekat. Dengan lebar mencapai 1.000 kilometerโsetara lebar Perancisโbadai ini bergerak melintasi Pasifik menuju Taiwan dan diperkirakan akan mendarat di China tenggara pada Sabtu.
Topan Bavi telah memicu evakuasi dan persiapan darurat di beberapa negara. Di Taiwan, pihak berwenang memperingatkan curah hujan bisa mencapai satu meter, dan sebanyak 29.000 tentara telah disiagakan untuk membantu upaya penanggulangan bencana. Badai ini diprediksi menjadi yang terbesar dalam ukuran yang melanda pulau tersebut sejak 1987, menurut Administrasi Cuaca Pusat Taiwan.
Di Filipina, tim penyelamat masih mencari korban hilang setelah tanah longsor mengubur rumah-rumah di Pulau Mindanao. Hujan deras diperkirakan akan terus mengguyur sebagian besar wilayah Filipina sepanjang akhir pekan. Sementara itu, warga di Taiwan dan Jepang berbondong-bondong memborong kebutuhan pokok, dan ribuan karung pasir telah dibagikan di daerah rawan banjir.
China juga bersiaga tinggi. Badai diperkirakan akan menghantam provinsi Fujian di tenggara, lalu bergerak ke utara. Ma Jun, direktur Institut Urusan Publik dan Lingkungan China, memperingatkan bahwa provinsi utara yang "kurang berpengalaman" menghadapi topan harus memperkuat persiapan. Beberapa prakiraan menunjukkan Bavi bisa mendarat dua kali di China.
Dampak terhadap transportasi sangat terasa. Japan Airlines membatalkan lebih dari 100 penerbangan, sementara All Nippon Airways membatalkan lebih dari 160 penerbangan hingga Minggu, mengganggu perjalanan hampir 40.000 penumpang. Thai Airways dan Malaysia Airlines juga menghentikan penerbangan ke dan dari Taipei. Sekolah-sekolah diliburkan di seluruh kawasan.
Bagi Indonesia, meskipun tidak berada di jalur langsung Topan Bavi, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan potensi cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia akibat pengaruh siklon tropis. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi hujan lebat dan angin kencang yang mungkin dipicu oleh pergerakan massa udara dari Samudra Pasifik.
Topan Bavi datang hanya beberapa hari setelah Topan Maysak melanda China selatan, menewaskan sedikitnya 39 orang dan memaksa evakuasi lebih dari 130.000 warga. Maysak juga memicu dua tornado langka di Provinsi Hubei dan menyebabkan kerugian besar di sektor pertanian. Dengan dua badai besar yang berturut-turut, kawasan Asia Timur kini menghadapi ujian berat dalam manajemen bencana dan ketahanan infrastruktur.
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan di negara-negara terdampak mampu meminimalkan korban jiwa dan kerugian ekonomi? Ataukah perubahan iklim akan membuat badai seperti Bavi semakin sering terjadi dan semakin sulit diprediksi?



