Jalur Sunyi Pesisir Aceh: Gerbang Penyelundupan Siamang ke Pasar Gelap Asia
Baca dalam 60 detik
- Pesisir timur Aceh dan Sumatera Utara menjadi jalur utama penyelundupan siamang dan satwa dilindungi ke Thailand, Malaysia, hingga India, memanfaatkan lemahnya pengawasan laut.
- Data TRAFFIC mencatat 67 kasus penyitaan siamang di Asia Tenggara sepanjang 2016-2025, dengan enam kasus lintas batas yang melibatkan jaringan kriminal terorganisir.
- Kurangnya data populasi dan lemahnya penegakan hukum di luar kawasan konservasi membuat perdagangan siamang terus berlangsung, mengancam kelestarian primata endemik Sumatera.

Di balik sunyinya pesisir timur Aceh, sebuah jaringan perdagangan satwa liar lintas negara beroperasi nyaris tanpa hambatan—menyelundupkan siamang, primata endemik Sumatera, ke pasar gelap Asia melalui jalur laut yang longgar pengawasan.
Mongabay Indonesia mengungkapkan bahwa wilayah Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Kota Langsa menjadi simpul vital pergerakan satwa ilegal. Pelaku menggunakan speedboat bermesin ganda—hingga lima mesin 200 PK—untuk menembus Selat Malaka menuju Provinsi Satun, Thailand. Jarak tempuh yang singkat, hanya delapan jam, dan minimnya patroli laut membuat jalur ini semakin diminati. Seorang nelayan setempat, Sulaiman, mengaku jarang melihat kapal patroli selama tiga minggu melaut.
"Penyelundupan sudah berlangsung lama, tapi seperti dibiarkan. Ini bukan rahasia lagi," ujar seorang warga Aceh Timur yang enggan disebut namanya. Kombinasi perkebunan sawit, tambak, dan ekosistem mangrove di pesisir Seruway dan Madat memberikan perlindungan alami bagi para penyelundup. Mereka bekerja sama dengan oknum warga yang menjadi "mata dan telinga" di lapangan.
Thailand, khususnya Satun, bukanlah tujuan akhir. Menurut Dwi Nugroho Adhiasto, pakar perdagangan satwa liar dari Scents, satwa-satwa itu dikirim ke Bangkok, lalu didistribusikan ke China, India, hingga Timur Tengah. "Satun hanya tempat singgah," katanya. Data Freeland Foundation menunjukkan bahwa pada Januari 2025, lima siamang disita di Bandara Mumbai dari penumpang asal Bangkok. Dua bulan kemudian, empat bayi siamang ditemukan dalam bagasi kabin penerbangan Kuala Lumpur menuju Bengaluru. Modusnya: primata dibius, diikat, dan dimasukkan ke dalam koper sempit—banyak yang mati sebelum tiba.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi alarm serius. Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, mengakui bahwa data populasi siamang di alam liar sangat minim. "Belum ada survei khusus," ujarnya. Sementara itu, Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Bresman Marpaung, menambahkan bahwa tren data penyitaan yang menurun tidak serta-merta mencerminkan kondisi lapangan. "Bisa jadi masih banyak yang lolos, terutama melalui jalur tidak resmi," katanya. Perhatian terhadap siamang masih kalah dibanding satwa karismatik seperti orangutan atau harimau, baik dari sisi konservasi maupun pendanaan.
Jaringan perdagangan ini tidak hanya memanfaatkan jalur laut. Di Bandara Kualanamu, Juni 2025, Bea Cukai menggagalkan penyelundupan 6.527 kupu-kupu mati, 200 tarantula, dan 20 kelabang dalam satu koper. Di Pelabuhan Belawan, satwa disembunyikan dalam wadah fiber yang disamarkan sebagai komoditas ikan. Sabaruddin, Kepala Seksi Humas Bea Cukai Sumatera Utara, menekankan perlunya sinergi lintas lembaga—dari TNI AL, Bakamla, hingga KPLP—untuk memantau 44 titik pendaratan ilegal di Sumatera Utara.
Di sisi lain, Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) menjadi pengecualian. Kepala BBTNGL, Subhan, mengklaim perburuan di kawasan konservasi minim berkat patroli ketat dan kamera pengawas real-time. Namun, ancaman terbesar justru di luar kawasan, di mana pengawasan terbatas dan masyarakat lokal kerap terlibat sebagai mata rantai distribusi. Elizabeth John dari TRAFFIC menegaskan, "Setelah keluar Indonesia, Malaysia dan Thailand lebih berfungsi sebagai negara transit." Jejak siamang sering hilang setelah melintasi perbatasan, membuat penegakan hukum semakin sulit.
Pertanyaan mendasar kini menggantung: mampukah aparat memutus rantai perdagangan ini dari hulu ke hilir, ataukah siamang akan terus menjadi komoditas gelap yang menghilang bersama hutan Sumatera yang menyusut?



