Hanwha Ocean Jual Dolar AS Rp30 Triliun, Bursa Won Menguat
Baca dalam 60 detik
- Pembuat kapal asal Korea Selatan, Hanwha Ocean, melepas sekitar 2 miliar dolar AS di pasar forward dollar-won pada Jumat lalu.
- Transaksi ini terjadi di tengah upaya pemerintah Korea Selatan menstabilkan nilai tukar won yang tertekan.
- Won langsung menguat 0,6 persen ke level 1.500 per dolar AS setelah kabar penjualan tersebut beredar.

Pembuat kapal raksasa Korea Selatan, Hanwha Ocean, dilaporkan menjual sekitar 2 miliar dolar AS (setara Rp30 triliun) di pasar forward dollar-won pada Jumat lalu, langkah yang langsung mendorong penguatan nilai tukar won terhadap dolar AS. Transksi ini menjadi sinyal bahwa pelaku pasar mulai merespons kebijakan otoritas moneter Negeri Ginseng yang berupaya menahan pelemahan mata uang domestik.
Menurut sumber yang mengetahui langsung transaksi tersebut, penjualan dilakukan di pasar forwardโkontrak yang memungkinkan pertukaran mata uang di masa depan dengan harga yang disepakati hari ini. Sumber yang enggan disebut namanya karena sensitivitas masalah ini mengatakan Hanwha Ocean belum memberikan komentar resmi. Namun, dampaknya langsung terasa: won tercatat menguat 0,6 persen ke posisi 1.500 per dolar AS setelah Reuters memberitakan aksi korporasi ini.
Langkah Hanwha Ocean terjadi di saat pemerintah Korea Selatan gencar melakukan intervensi untuk menahan depresiasi won. Sejak awal tahun, won telah melemah signifikan akibat ekspektasi suku bunga tinggi di Amerika Serikat dan ketidakpastian ekonomi global. Deputi Menteri Keuangan Moon Ji-sung sebelumnya menyatakan bahwa dinamika penawaran-permintaan di pasar valuta asing diperkirakan berubah pada paruh kedua 2026, dengan aliran dolar dari eksportir diharapkan masuk melalui kontrak forward valas.
Bagi Indonesia, pergerakan won patut dicermati karena Korea Selatan merupakan mitra dagang utama. Pelemahan won dapat membuat produk Korea lebih murah di pasar global, termasuk Indonesia, sehingga berpotensi menekan produk lokal. Sebaliknya, penguatan won seperti yang terjadi setelah aksi Hanwha Ocean bisa mengurangi tekanan kompetitif. Namun, yang lebih penting adalah sinyal bahwa intervensi pasar masih efektif, setidaknya dalam jangka pendek.
Analis menilai penjualan forward oleh Hanwha Ocean juga mencerminkan strategi lindung nilai (hedging) perusahaan di tengah volatilitas nilai tukar. Dengan menjual dolar di pasar forward, Hanwha Ocean mengunci kurs untuk kebutuhan masa depan, sekaligus membantu menstabilkan pasar. Langkah serupa pernah dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar Indonesia, seperti Pertamina dan PLN, saat rupiah tertekan.
Ke depan, efektivitas kebijakan stabilisasi won akan sangat tergantung pada aliran modal asing. Rencana penjualan saham SK Hynix di Amerika Serikat diperkirakan membawa masuk dolar ke Korea Selatan, yang bisa meredam tekanan jual terhadap won. Namun, jika The Fed tetap agresif menaikkan suku bunga, won dan mata uang Asia lainnya masih berpotensi tertekan. Pertanyaan besarnya: akankah langkah-langkah ad hoc seperti yang dilakukan Hanwha Ocean cukup untuk menjaga stabilitas, atau diperlukan kebijakan struktural yang lebih fundamental?



