Longsor Tewaskan 13 Pengungsi Rohingya di Bangladesh, Evakuasi Massal Dipercepat
Baca dalam 60 detik
- Bencana longsor di kamp pengungsi Rohingya Cox's Bazar menewaskan sedikitnya 13 orang, termasuk lima anak di sebuah sekolah agama.
- Otoritas Bangladesh memindahkan lebih dari 1.000 pengungsi dari area rawan longsor, meski banyak penghuni enggan meninggalkan tempat tinggal darurat.
- Peristiwa ini kembali menyoroti krisis kemanusiaan yang berlarut-larut, dengan proses repatriasi ke Myanmar yang masih mandek.

Sedikitnya 13 pengungsi Rohingya tewas akibat longsor yang dipicu hujan deras di kamp-kamp Cox's Bazar, Bangladesh, dalam sepekan terakhir. Peristiwa paling memilukan terjadi pada Rabu (9/7) ketika tanah longsor menimpa sebuah sekolah agama Islam di dalam kamp, menewaskan lima anak perempuan yang sedang bersiap mengikuti pelajaran.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Perlindungan Sipil setempat, Dollar Tripura, mengungkapkan bahwa warga kamp memulai operasi penyelamatan secara mandiri sebelum tim darurat tiba. Petugas kemudian mengevakuasi korban luka dan mengevakuasi jenazah. Operasi pencarian dihentikan Rabu malam, namun relawan masih khawatir ada korban lain yang tertimbun.
Seorang guru sekolah yang selamat, Begum Jahan, menceritakan kekacauan saat longsor terjadi. "Kami yang berada di sisi barat berhasil keluar, tetapi semua orang di sisi timur tertimbun puing. Beberapa mengalami patah tangan, dan beberapa gadis kehilangan nyawa," katanya. Para korban tewas diketahui seluruhnya adalah perempuan.
Otoritas di Cox's Bazar mulai Kamis (10/7) memindahkan pengungsi dari daerah perbukitan berbahaya menggunakan pengeras suara dan jaringan sukarelawan. Lebih dari 1.000 orang telah dievakuasi, meskipun banyak pengungsi enggan meninggalkan tempat tinggal darurat mereka. Badan Meteorologi Bangladesh memperkirakan hujan masih akan turun dalam beberapa hari ke depan, meningkatkan risiko longsor susulan.
Sejak Minggu malam hingga Senin, longsor telah menewaskan setidaknya delapan orang di kamp-kamp Rohingya. Media lokal melaporkan sedikitnya 22 orang tewas di negara delta berpenduduk 170 juta jiwa akibat longsor dan runtuhnya tembok dalam tiga hari terakhir. Angka itu termasuk korban di kamp-kamp Cox's Bazar.
Krisis ini kembali mengingatkan pada situasi genting lebih dari satu juta pengungsi Rohingya yang tinggal di kamp-kamp padat di Bangladesh. Mereka melarikan diri dari kekerasan di Myanmar sejak 2017. Bangladesh selama bertahun-tahun mendesak komunitas internasional untuk membantu memulangkan para pengungsi, namun proses repatriasi masih terhambat karena ketidakstabilan politik dan keamanan di Myanmar.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan bencana di daerah padat penduduk, terutama di musim hujan. Meskipun skala dan konteksnya berbeda, risiko longsor di permukiman padat di perbukitan juga mengancam sejumlah wilayah di Tanah Air. Pertanyaan yang mengemuka: akankah komunitas internasional kembali tergerak untuk mempercepat solusi berkelanjutan bagi pengungsi Rohingya, atau bencana demi bencana akan terus berulang tanpa perubahan berarti?



