Pasar Saham Global Menguat, Investor Kembali ke Saham Teknologi di Tengah Konflik Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham global ditutup positif pada Kamis (9/7) karena minat investor terhadap saham teknologi kembali menguat, mengabaikan eskalasi serangan antara AS dan Iran.
- Rencana pencatatan saham SK hynix di AS yang kelebihan permintaan tujuh kali lipat menjadi katalis utama, menunjukkan selera investor terhadap perusahaan semikonduktor AI tetap tinggi.
- Harga minyak mentah Brent turun 2,2% ke US$76,30 per barel meskipun ketegangan geopolitik meningkat, karena pasokan minyak dari luar Teluk yang lebih besar mengurangi dampak gangguan.

Pasar saham global mencatat penguatan pada perdagangan Kamis (9/7) seiring kembalinya minat investor terhadap saham-saham teknologi, meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dengan serangan balasan. Indeks Nasdaq Composite di Wall Street melonjak 1,3 persen, memimpin kenaikan di bursa utama dunia, sementara harga minyak justru tertekan.
Faktor utama yang mendorong aksi beli di sektor teknologi adalah kabar bahwa rencana pencatatan saham raksasa chip asal Korea Selatan, SK hynix, di bursa AS mengalami kelebihan permintaan hingga tujuh kali lipat. Para pengamat memperkirakan perusahaan dapat mengumpulkan dana hingga US$28 miliar dari penawaran umum perdana tersebut. "Ini menunjukkan minat investor terhadap perusahaan semikonduktor AI masih kuat, mendorong mereka kembali ke saham teknologi meskipun ada ketidakpastian geopolitik," ujar Angus Campbell, analis dari Trade Nation.
Di Asia, bursa Seoul ditutup menguat 0,6 persen, meskipun indeksnya masih berada lebih dari 20 persen di bawah rekor tertinggi yang diraih pada Juni. Tokyo, Shanghai, Singapura, dan Jakarta juga mencatat kenaikan. Namun, sentimen tetap hati-hati karena valuasi saham teknologi dinilai sudah mahal dan kejelasan soal kapan investasi AI akan memberikan imbal hasil masih samar. Sementara itu, bursa Hong Kong justru melemah.
Di Eropa, indeks Paris dan Frankfurt berakhir positif, tetapi London tertekan oleh aksi jual saham AstraZeneca. Perusahaan farmasi raksasa asal Inggris itu ambles hingga 10 persen setelah obat jantung barunya gagal memenuhi target dalam uji klinis. Saham AstraZeneca kemudian memangkas kerugian menjadi 6,2 persen pada penutupan perdagangan.
Dari sisi geopolitik, AS dan Iran kembali melancarkan serangan pada Kamis, dengan Tehran menargetkan aset AS di Kuwait, Bahrain, dan Qatar. Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata antara Washington dan Tehran "berakhir", meskipun ia membuka peluang untuk negosiasi lebih lanjut. Namun, pasar tampak tidak terlalu terpengaruh. "Peristiwa beberapa hari terakhir adalah tanda lain bahwa jalan menuju perdamaian jangka panjang akan berliku, tetapi pasar tampaknya mampu menyerap ketegangan saat ini," kata Kathleen Brooks, direktur riset XTB.
Analis FHN Financial, Christopher Low, menambahkan bahwa peningkatan produksi minyak di luar kawasan Teluk sejak perang Timur Tengah dimulai membuat gangguan pasokan tidak lagi separah sebelumnya. Hal ini menjelaskan mengapa harga minyak justru turun meskipun konflik memanas. Minyak mentah Brent sempat menyentuh US$80 per barel pada Rabu, namun kembali tertekan pada Kamis.
Bagi Indonesia, penguatan bursa global menjadi angin segar di tengah ketidakpastian. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ikut menguat pada perdagangan Kamis menunjukkan sentimen positif investor. Namun, investor domestik perlu mencermati risiko dari fluktuasi harga minyak dan dampak konflik Timur Tengah terhadap nilai tukar rupiah serta biaya impor energi. Ke depan, perhatian akan tertuju pada keputusan harga IPO SK hynix dan kelanjutan dialog AS-Iran, yang bisa menentukan arah pasar dalam beberapa pekan mendatang.



