Kisah Heroik di China: Istri Gigit Jari Kaki Suami Selama Bertahun-tahun hingga Bangun dari Koma
Baca dalam 60 detik
- Seorang istri di China berhasil membangunkan suaminya dari status vegetatif dengan menggigit jari kakinya setiap hari selama bertahun-tahun.
- Sang suami, Zhao Jinqian, mengalami cedera otak parah setelah menyelamatkan seorang anak dari jatuh dari atap gudang pada 2019.
- Kisah ini viral di media sosial China, memicu perdebatan tentang metode perawatan alternatif dan pengabdian tanpa batas.

Seorang perempuan di Henan, China, berhasil membangunkan suaminya dari kondisi vegetatif yang berlangsung bertahun-tahun dengan cara yang tak lazim: menggigit jari kakinya setiap hari. Kisah Song Mei dan Zhao Jinqian ini menjadi viral di media sosial, memicu kekaguman sekaligus perdebatan tentang batas pengabdian dan metode perawatan alternatif.
Zhao Jinqian, seorang pekerja waterproofing, mengalami cedera otak parah setelah jatuh dari ketinggian sekitar enam meter saat menyelamatkan seorang anak berusia tiga tahun yang terjebak di atap gudang pada Oktober 2019. Ia mendarat dengan kepala terlebih dahulu, menyebabkan cedera otak berat dan patah tulang di beberapa bagian tubuh. Dokter menyatakan peluangnya untuk sadar sangat kecil, dan ia selamat adalah sebuah keajaiban.
Song Mei, mantan guru seni taman kanak-kanak berusia 45 tahun, berhenti dari pekerjaannya untuk merawat Zhao penuh waktu. Ia membersihkan, memijat, dan berbicara dengan suaminya setiap hari, sambil menjual lukisan secara daring untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dokter menyarankan stimulasi pada jari tangan dan kaki untuk membantu pemulihan saraf. Suatu hari, secara tidak sengaja, Song menggigit jari kaki Zhao dan melihat respons kecil. Sejak saat itu, ia rutin menggigit jari kaki suaminya—dengan membungkusnya dalam kantong makanan—selama bertahun-tahun.
Pada 2024, Zhao mulai membuka matanya sedikit. Meski belum bisa bicara atau bergerak, responsnya terhadap rangsangan semakin kuat. Dalam rehabilitasi harian, Song sering bernyanyi untuknya. Kini, Zhao dapat memahami ucapan, mengangkat tangan sebagai jawaban, dan berdiri sebentar dengan bantuan. Puncaknya terjadi pada 30 Juni lalu, saat Zhao berbaring di ranjang rumah sakit dan berbisik, "Song Mei, aku cinta kamu." Song tertawa terbahak-bahak karena bahagia.
Kisah ini menyentuh banyak orang di China. Seorang warganet menulis, "Zhao adalah pahlawan karena menyelamatkan nyawa, dan Song adalah pahlawan karena menciptakan keajaiban." Namun, ada juga yang mempertanyakan metode Song, menyarankan ia bisa menggunakan tangan atau klip. "Saya tetap kagum pada cintanya yang tulus. Banyak anak mungkin tidak melakukan ini untuk orang tua mereka sendiri," komentar yang lain.
Di Indonesia, kisah ini mengingatkan pada tantangan perawatan pasien dengan cedera otak berat. Menurut data Kementerian Kesehatan, kasus cedera otak traumatik cukup tinggi akibat kecelakaan lalu lintas. Metode stimulasi sensorik seperti yang dilakukan Song belum lazim di Indonesia, namun beberapa ahli saraf mengakui bahwa stimulasi berulang dapat membantu aktivasi saraf. "Ini bukan protokol medis standar, tapi kasus ini menunjukkan pentingnya dukungan keluarga dan ketekunan," ujar dr. Andika, spesialis saraf di Jakarta, yang tidak terlibat dalam kasus tersebut.
Belum ada rencana perawatan lanjutan untuk Zhao. Namun, kisah Song dan Zhao menjadi pengingat bahwa cinta dan pengorbanan bisa melampaui batas medis. Pertanyaannya, akankah metode tak lazim seperti ini mendapat tempat dalam praktik medis konvensional di masa depan?



