Jepang Gencar Ekspansi Industri Antariksa: Alokasi Dana Triliunan Yen dan Kemitraan Strategis
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Jepang mengalokasikan lebih dari 1,04 triliun yen untuk belanja antariksa tahun fiskal ini, naik 12% dibanding tahun sebelumnya.
- Konferensi Spacetide 2026 di Tokyo menjadi ajang penandatanganan sejumlah perjanjian bilateral, termasuk kerja sama pertama antara JAXA dan Badan Antariksa Singapura.
- Jepang menargetkan nilai pasar antariksa domestik mencapai 8 triliun yen pada awal 2030-an, dua kali lipat dari capaian 2020.

Jepang semakin serius menjadikan sektor antariksa sebagai pilar utama keamanan nasional dan pertumbuhan ekonomi. Dalam konferensi Spacetide 2026 yang baru saja usai di Tokyo, negara ini menunjukkan komitmennya melalui peningkatan investasi pemerintah dan perluasan kerja sama internasional yang signifikan.
Konferensi empat hari yang berlangsung hingga 9 Juli itu dihadiri peserta dari sekitar 30 negara dan kawasan, mencakup lembaga pemerintah, perusahaan swasta, investor, serta peneliti. Acara ini menjadi panggung bagi Jepang untuk memperkuat posisinya sebagai hub antariksa komersial dan strategis di Asia Pasifik di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Pemerintah Jepang telah mengalokasikan lebih dari 1,04 triliun yen (sekitar US$6,5 miliar) untuk belanja terkait antariksa pada tahun fiskal berjalan, meningkat 12% dari tahun sebelumnya. Target ambisius pun dicanangkan: menggandakan ukuran pasar antariksa Jepang menjadi sekitar 8 triliun yen pada awal 2030-an, dari 4 triliun yen pada 2020.
Salah satu pencapaian penting dalam konferensi tersebut adalah penandatanganan perjanjian kerja sama bilateral pertama antara Badan Antariksa Nasional Singapura (NSAS) dan Badan Eksplorasi Antariksa Jepang (JAXA). Kesepakatan ini mencakup pertukaran informasi dan kolaborasi di bidang pengembangan teknologi antariksa, sains dan eksplorasi, pengembangan industri, pendidikan, serta kebijakan dan regulasi. Langkah ini menandai babak baru hubungan antariksa kedua negara.
Perusahaan antariksa milik negara Swedia, SSC Space, yang membuka kantor Jepang pada Januari lalu, juga mengumumkan beberapa kemitraan dengan perusahaan Jepang. Termasuk di dalamnya kerja sama dengan Infostellar, startup asal Tokyo yang mengembangkan layanan stasiun bumi berbasis cloud, dan Seiren Co., produsen satelit ultra-kecil. "Pasar Jepang terus tumbuh dan Spacetide menjadi platform yang tepat untuk menjangkau perusahaan-perusahaan baru Jepang," ujar Fredrik Gisle, kepala pasar SSC Space untuk Asia Pasifik.
Peluang juga terbuka lebar bagi perusahaan Singapura. SpeQtral, startup komunikasi kuantum, telah bermitra dengan operator satelit Jepang SKY Perfect JSAT Corporation sejak Januari. CEO SpeQtral, Chune Yang Lum, menekankan bahwa teknologi kuantum bersifat dual-use, dapat diterapkan untuk sektor komersial maupun pertahanan, terutama jika dipadukan dengan teknologi satelit.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting. Dengan posisi geografis strategis dan kebutuhan akan konektivitas serta keamanan maritim, Indonesia dapat menjadi mitra potensial bagi Jepang dan negara lain yang tengah mengembangkan ekosistem antariksa. Kerja sama di bidang observasi bumi, telekomunikasi, dan pengembangan sumber daya manusia bisa menjadi pintu masuk bagi Indonesia untuk turut serta dalam rantai nilai industri antariksa global yang sedang tumbuh pesat.
Ke depan, partisipasi Jepang dalam ajang antariksa regional diprediksi semakin kuat. Experia Events, penyelenggara Singapore Space Summit, memperkirakan jumlah peserta Jepang pada edisi tahun depan akan meningkat 15-20%. Managing Director Leck Chet Lam menyatakan, "Kuncinya ada pada data dan bagaimana data itu diaplikasikan. Kami di Spacetide untuk mencari lebih banyak peserta pameran dari Jepang." Pertanyaannya, apakah Indonesia akan segera mengambil langkah serupa untuk tidak tertinggal dalam perlombaan antariksa Asia?



