Thaksin, Yingluck, Paetongtarn Bertemu Prabowo: Sinyal Investasi Baru Thailand-Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Prabowo Subianto bersama jajaran Danantara menerima tiga mantan perdana menteri Thailand di Jakarta, Kamis (9/7).
- Thaksin Shinawatra, yang kini menjadi anggota Dewan Penasihat Danantara, memberikan masukan strategis terkait investasi dan pengelolaan aset.
- Pertemuan ini menandai penguatan hubungan bilateral yang berpotensi membuka peluang investasi baru antara Indonesia dan Thailand.

Presiden Prabowo Subianto, didampingi oleh para petinggi Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), menerima kunjungan tiga mantan Perdana Menteri Thailand di Gedung Danantara, Jakarta Pusat, Kamis (9/7). Ketiga tokoh tersebut adalah Thaksin Shinawatra, Yingluck Shinawatra, dan Paetongtarn Shinawatra—sebuah rombongan yang mewakili dinasti politik paling berpengaruh di Negeri Gajah Putih.
Pertemuan yang berlangsung dalam suasana hangat ini bukan sekadar silaturahmi. Thaksin, yang saat ini menjabat sebagai anggota Dewan Penasihat Danantara, secara langsung memberikan masukan dan bertukar pikiran dengan Presiden Prabowo serta jajaran direksi Danantara. Sekretariat Kabinet (Setkab) dalam unggahan Instagram resminya menyebut diskusi mencakup peluang penguatan investasi, strategi pengelolaan aset, serta pengembangan ekonomi nasional yang berorientasi pada pertumbuhan jangka panjang.
Kehadiran tiga eks perdana menteri sekaligus—Thaksin (2001-2006), Yingluck (2011-2014), dan Paetongtarn (2024-2025)—menunjukkan bobot strategis pertemuan ini. Yingluck adalah adik kandung Thaksin, sementara Paetongtarn adalah putri Thaksin. Ketiganya masih memiliki pengaruh kuat di Thailand, meski beberapa di antaranya tengah menghadapi tekanan politik di dalam negeri.
Bagi Indonesia, pertemuan ini memiliki arti penting dalam konteks diplomasi ekonomi. Danantara sebagai badan pengelola investasi negara tengah gencar mencari mitra strategis untuk mengoptimalkan aset negara. Masukan dari Thaksin, yang dikenal memiliki jaringan bisnis luas di Asia Tenggara, dinilai dapat membuka akses ke peluang investasi baru, terutama di sektor infrastruktur dan energi.
Di sisi lain, kunjungan ini juga mencerminkan dinamika politik regional. Thaksin dan Yingluck masih menjadi figur kontroversial di Thailand, dengan sejumlah kasus hukum yang membayangi. Namun, penerimaan resmi oleh Presiden Indonesia menunjukkan bahwa hubungan bilateral tetap berjalan di atas kepentingan ekonomi dan strategis jangka panjang.
Setkab menegaskan bahwa pertemuan semacam ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas kerja sama internasional. "Melalui komunikasi yang erat dengan para pemimpin dan tokoh dunia, Pemerintah Indonesia terus memperkuat jejaring persahabatan sekaligus membuka ruang bagi pertukaran gagasan dan pengalaman," demikian pernyataan resmi yang dikutip dari unggahan Instagram Setkab.
Pertemuan ini juga menjadi sinyal bahwa Danantara, yang baru terbentuk, mulai memainkan peran aktif dalam diplomasi investasi. Kehadiran Thaksin sebagai anggota dewan penasihat memberikan legitimasi dan jaringan global yang dibutuhkan untuk menarik investor asing. Pertanyaannya, sejauh mana rekomendasi dari mantan pemimpin Thailand ini akan diimplementasikan dalam kebijakan investasi nasional?



