Kekalahan Telak Pangeran Harry di Pengadilan: Akhir dari Perang Melawan Tabloid Inggris?
Baca dalam 60 detik
- Pengadilan Tinggi London menolak seluruh 97 tuntutan Pangeran Harry dan sejumlah tokoh lain terhadap Daily Mail, menyatakan bukti tidak cukup.
- Kekalahan ini berpotensi membebankan biaya hukum hingga £50 juta kepada para penggugat, termasuk Elton John dan Baroness Lawrence.
- Putusan ini diprediksi menghentikan kampanye Harry melawan pers Inggris dan membuat calon penggugat lain berpikir ulang.

Pangeran Harry harus menerima kenyataan pahit setelah Pengadilan Tinggi London memutuskan bahwa gugatannya terhadap penerbit Daily Mail, Associated Newspapers, tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Hakim Matthew Nicklin menolak seluruh 97 tuduhan aktivitas ilegal yang diajukan Harry bersama sejumlah tokoh publik lainnya, termasuk musisi Elton John dan aktris Liz Hurley.
Dalam putusannya, Hakim Nicklin menilai bahwa kesaksian Pangeran Harry lebih banyak menonjolkan dampak emosional ketimbang fakta hukum. “Dalam menilai kesaksian Pangeran Harry secara keseluruhan, tampak jelas bahwa ia ingin pengadilan memahami dampak pribadi dari masalah yang diangkat. Kadang-kadang, hal ini membawanya melampaui pemberian bukti faktual hingga mengajukan argumen tentang isu-isu tersebut,” ujar hakim.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi para penggugat yang telah mengklaim bahwa Daily Mail terlibat dalam penyadapan pesan suara, penyadapan telepon rumah, dan praktik “blagging” (memperoleh informasi dengan tipu daya). Gugatan yang diajukan pada 2022 itu menuntut pertanggungjawaban atas dugaan pelanggaran privasi yang sistematis.
Meskipun Pangeran Harry memiliki catatan kemenangan melawan pers Inggris—seperti gugatan terhadap Mirror Group Newspapers pada 2023 dan penyelesaian dengan The Sun pada awal 2025—kali ini ia gagal meyakinkan pengadilan. Dalam kasus Mirror, hakim memutuskan bahwa 15 dari 33 artikel yang diperiksa merupakan hasil penyadapan telepon dan tindakan ilegal lainnya, serta menemukan bukti praktik penyadapan yang “meluas dan lazim” di surat kabar tersebut.
Namun, dalam kasus Daily Mail, pembelaan yang kuat dari Associated Newspapers berhasil membalikkan keadaan. Penerbit tersebut menegaskan bahwa jurnalis mereka memiliki sumber yang sah, termasuk petugas humas, juru bicara, dan jurnalis lepas. Mereka juga menuduh tim hukum Pangeran Harry melakukan kecurangan, penipuan, dan pelanggaran etika, termasuk memberikan pembayaran tunai kepada saksi potensial.
Salah satu saksi kunci, penyelidik swasta Gavin Burrows, yang sebelumnya mengaku melakukan aktivitas ilegal untuk Associated Newspapers, kemudian menyatakan bahwa pernyataan tertulis tahun 2021 yang dikaitkan dengannya adalah palsu. “Anda bisa tahu bahwa itu bahkan bukan tanda tangan yang benar. Saya bisa tahu bahwa itu dipalsukan dan dilacak,” ujarnya di pengadilan. Hakim Nicklin menilai kredibilitas Burrows telah “hancur total”.
Bagi Baroness Doreen Lawrence, ibu dari remaja Stephen Lawrence yang dibunuh, kasus ini juga menjadi kekalahan pahit. Ia sebelumnya mengklaim bahwa Daily Mail menyadap telepon rumahnya, meretas pesan suara, memonitor rekening bank, tagihan telepon, dan bahkan melakukan pengawasan elektronik. Namun, pengadilan tidak menemukan bukti yang cukup untuk mendukung tuduhan tersebut.
“Ini adalah kemenangan luar biasa bagi Daily Mail dan para jurnalisnya, serta bagi kebebasan pers secara umum,” kata juru bicara Associated Newspapers setelah putusan.
Kekalahan ini diprediksi akan mengakhiri kampanye panjang Pangeran Harry melawan pers Inggris. Kelompok advokasi Hacked Off, yang didirikan pada 2011 untuk memperjuangkan pers yang bebas dan bertanggung jawab, menilai banding atas putusan ini tidak mungkin dilakukan. “Pengadilan bukanlah kendaraan yang tepat untuk menyelidiki tuduhan kesalahan terhadap Mail secara menyeluruh,” ujar perwakilan kelompok tersebut.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya keseimbangan antara kebebasan pers dan perlindungan privasi individu. Meskipun pers di Indonesia tidak seagresif tabloid Inggris, kasus ini menunjukkan bahwa litigasi terhadap media memerlukan bukti yang sangat kuat dan biaya yang tidak sedikit. Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah kekalahan ini akan membuat para selebritas dan tokoh publik lain berpikir dua kali sebelum melawan media besar?



