Malaysia Bantah Jho Low Masuk ke Negeri Jiran untuk Negosiasi 1MDB
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Malaysia melalui Wakil Menteri Keuangan membantah kabar bahwa buronan Jho Low telah memasuki negara itu untuk membahas utang 1MDB.
- Kabar yang beredar sejak Mei lalu menyebut Low masuk secara diam-diam sebagai bagian dari delegasi China, namun klaim itu dibantah di parlemen.
- Malaysia masih menanggung utang 1MDB sebesar RM51,4 miliar, dengan aset yang sudah pulih mencapai RM31,3 miliar.

Pemerintah Malaysia secara resmi membantah laporan yang menyebut buronan kasus 1MDB, Jho Low, telah memasuki wilayah negara itu untuk melakukan negosiasi terkait utang dana negara yang merugikan miliaran dolar. Bantahan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Keuangan Liew Chin Tong dalam sesi tanya jawab di parlemen, Kamis (9/7).
Laporan yang dimuat portal Sarawak Report pada Mei lalu mengklaim bahwa Low, yang nama lengkapnya Low Taek Jho, secara diam-diam masuk ke Malaysia tahun lalu sebagai bagian dari delegasi China. Tujuannya disebut untuk merundingkan utang yang terkait dengan skandal 1MDB. Namun, Liew dengan tegas menyangkal kebenaran detail laporan tersebut, demikian pula dengan laporan The Wall Street Journal yang menyebut Low sedang bernegosiasi dengan otoritas Malaysia untuk mengembalikan aset terkait 1MDB.
Skandal 1MDB merupakan salah satu kasus korupsi terbesar di dunia, dengan dana negara senilai setidaknya US$4,5 miliar yang diduga digelapkan oleh Low dan sejumlah pihak terkait. Low sendiri menghadapi berbagai tuduhan, termasuk korupsi dan pencucian uang, baik di Amerika Serikat maupun Malaysia. Meski begitu, ia secara konsisten membantah semua tuduhan dan keberadaannya hingga kini tidak diketahui.
Dalam pernyataannya, Liew mengungkapkan bahwa pemerintah Malaysia masih harus membayar utang 1MDB yang diperkirakan mencapai RM20,1 miliar (sekitar US$4,9 miliar). Total kewajiban dana tersebut mencapai RM51,4 miliar. Di sisi lain, Malaysia telah berhasil memulihkan aset terkait 1MDB senilai RM31,3 miliar. Upaya pemulihan aset masih terus berlangsung, termasuk melalui proses pidana dan perdata terhadap Low serta lembaga keuangan yang diduga memfasilitasi skandal tersebut.
Bagi Indonesia, kasus 1MDB memiliki implikasi penting mengingat kedekatan geografis dan ekonomi dengan Malaysia. Skandal ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola keuangan negara yang transparan dan akuntabel. Selain itu, keterlibatan tokoh-tokoh dari kawasan dalam kasus ini menunjukkan perlunya kerja sama regional dalam pemberantasan korupsi dan pencucian uang. Otoritas Indonesia tentu akan terus memantau perkembangan kasus ini, terutama jika ada kemungkinan dampak terhadap stabilitas keuangan regional.
Ke depannya, pertanyaan besar masih menggantung: akankah Jho Low akhirnya berhasil dibawa ke pengadilan? Atau akankah ia terus menghindari jerat hukum dengan memanfaatkan celah yurisdiksi internasional? Upaya pemulihan aset yang dilakukan Malaysia menunjukkan komitmen untuk membersihkan nama negara, namun jalan menuju keadilan masih panjang.



