Lelah Fisik tapi Pikiran Tak Bisa Tenang: Akar Masalahnya di Otak Primitif Manusia
Baca dalam 60 detik
- Fenomena 'lelah tapi gelisah' terjadi karena sistem respons stres otak yang dirancang untuk bahaya fisik jangka pendek, bukan tekanan modern yang berkepanjangan.
- Hormon kortisol yang seharusnya menurun di malam hari tetap tinggi akibat stres kronis, mengganggu transisi ke tidur.
- Terapi perilaku kognitif untuk insomnia dan kebiasaan seperti membatasi layar malam hari dapat memutus siklus hiperarousal.

Jam menunjukkan pukul 02.13 dini hari. Tubuh terasa berat, mata perih, namun pikiran justru berlari kencang—mengulang percakapan bertahun-tahun lalu, mencemaskan surel yang belum terkirim, atau membayangkan skenario terburuk. Kondisi yang akrab disebut 'lelah tapi gelisah' ini bukan sekadar kurang disiplin, melainkan cerminan bagaimana otak manusia modern masih beroperasi dengan perangkat evolusi yang dirancang untuk menghadapi harimau bergigi pedang, bukan notifikasi ponsel.
Menurut para ahli saraf, rasa kantuk seharusnya memicu tidur secara otomatis. Namun, pada kenyataannya, kelelahan fisik dan kewaspadaan mental dikendalikan oleh sistem yang tumpang tindih namun terpisah. Ketika otak mendeteksi ancaman—baik itu predator sungguhan maupun tenggat pekerjaan—amigdala mengaktifkan respons 'lawan atau lari'. Hormon adrenalin dan kortisol dilepaskan, detak jantung meningkat, dan perhatian menajam. Energi dialihkan dari tugas pemeliharaan jangka panjang ke aksi segera.
Masalahnya, tekanan modern jarang bersifat singkat. Surel terus berdatangan, pekerjaan mengikuti melalui ponsel, dan media sosial menyajikan perbandingan sosial tanpa henti. Akibatnya, pusat kewaspadaan di batang otak, hipotalamus, dan otak depan tetap aktif sebagian untuk waktu lama. Tidur bukanlah sekadar ketiadaan kesadaran; otak harus secara aktif meredam sistem gairah ini. Di bawah stres berkepanjangan, otak bisa 'macet' dalam kondisi hiperarousal—terus memindai, mengantisipasi, dan mengulang kekhawatiran.
Fenomena ini diperparah oleh kebiasaan 'doomscrolling'—bergulir tanpa henti di media sosial yang menggabungkan gairah emosional, ketidakpastian, dan kebaruan. Tiga elemen ini hampir mustahil diabaikan oleh sistem perhatian manusia. Belum lagi ruminasi, yaitu pengulangan mental terhadap masalah dan kekhawatiran. Kemampuan manusia untuk mensimulasikan masa depan dan mengingat masa lalu memang berguna untuk perencanaan, tetapi juga membuat otak terus menghasilkan respons stres lama setelah ancaman langsung hilang.
Ironisnya, semakin lelah seseorang, semakin sulit mengatur emosi. Kurang tidur meningkatkan reaktivitas amigdala sekaligus mengurangi pengaruh moderat dari korteks prefrontal—bagian otak yang bertanggung jawab atas kendali rasional dan perspektif. Otak yang lelah menjadi lebih reaktif secara emosional, membuat kekhawatiran terasa lebih keras di malam hari. Inilah mengapa nasihat 'santai saja' sering tidak berguna bagi penderita insomnia; hiperarousal bukanlah kegagalan kemauan, melainkan kondisi biologis yang dibentuk oleh sistem stres, hormon, jaringan perhatian, dan pola kewaspadaan yang dipelajari.
Bagi pembaca di Indonesia, tantangan ini makin relevan di tengah budaya kerja yang kerap menuntut ketersediaan 24 jam dan penetrasi ponsel yang tinggi. Banyak pekerja kantoran di kota-kota besar mengaku sulit memisahkan waktu kerja dan istirahat, diperparah dengan kebiasaan mengecek media sosial sebelum tidur. Para peneliti tidur menekankan bahwa istirahat dan rasa aman terkait erat di otak. Rutinitas konsisten, mengurangi stimulasi malam hari, olahraga, paparan sinar matahari, dan membatasi penggunaan layar larut malam dapat membantu memperkuat sinyal bahwa malam adalah waktu pemulihan.
Terapi perilaku kognitif untuk insomnia (CBT-I) telah terbukti efektif karena secara langsung memutus siklus kecemasan dan sulit tidur. Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah kita, sebagai masyarakat yang terus terhubung, merancang ulang kebiasaan digital agar otak primitif kita bisa benar-benar beristirahat?



