Mencetak Jaringan Manusia di Luar Angkasa: Terobosan Baru untuk Transplantasi Masa Depan
Baca dalam 60 detik
- Auxilium Biotechnologies berhasil mencetak jaringan hati, ginjal, dan tulang rawan manusia di Stasiun Luar Angkasa Internasional menggunakan bioprinter 3D.
- Mikrogravitasi memungkinkan distribusi sel yang seragam, mengatasi kendala utama dalam rekayasa jaringan di Bumi.
- Produk medis hasil cetak ruang angkasa diperkirakan masih memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum siap digunakan secara klinis.

Untuk pertama kalinya, jaringan hati dan ginjal manusia berhasil dicetak di luar angkasa. Perusahaan bioteknologi Auxilium Biotechnologies mengumumkan keberhasilan misi pencetakan 3D di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) yang menghasilkan struktur berisi sel-sel hati, ginjal, dan tulang rawan. Langkah ini diyakini membuka jalan bagi produksi jaringan transplantasi di orbit Bumi.
Misi yang baru saja rampung ini menjadi tonggak penting dalam upaya mengatasi masalah distribusi sel yang tidak merata, yang selama ini menjadi hambatan utama dalam rekayasa jaringan di Bumi. Menurut Jacob Koffler, salah satu pendiri Auxilium yang juga peneliti di University of California, San Diego, sel-sel yang digunakan berasal dari para peneliti di Wake Forest University. Di Bumi, sel-sel cenderung mengendap karena gravitasi, menyebabkan distribusi tidak merata dan jaringan tidak berfungsi optimal. Namun, dalam kondisi mikrogravitasi, sel-sel dapat tersebar secara seragam, memungkinkan pembentukan struktur yang lebih mendekati jaringan asli.
Keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuan tim untuk mengontrol proses pencetakan dari jarak jauh. Melalui kamera di ISS, tim Koffler dapat mengunggah instruksi baru ke printer sesuai kebutuhan. Dr. Anthony Atala dari Wake Forest Institute for Regenerative Medicine, yang menyediakan sel hati dan ginjal, menyatakan bahwa distribusi sel yang seragam di stasiun luar angkasa menunjukkan kemungkinan nyata untuk memproduksi perangkat medis dan jaringan di luar angkasa.
Meskipun demikian, struktur yang dicetak belum berfungsi sebagai organ utuh. Koffler memperkirakan bahwa sebelum mencapai organ pengganti yang lengkap, fokus utama akan tertuju pada tambalan jaringan kecil yang dapat membantu memperbaiki organ yang rusak, seperti hati. Langkah ini dianggap lebih realistis dalam waktu dekat.
Misi ini juga menyoroti meningkatnya minat terhadap manufaktur komersial di luar angkasa, seiring rencana NASA untuk pensiunnya ISS. Auxilium telah menandatangani perjanjian dengan perusahaan yang mengembangkan stasiun luar angkasa komersial dan platform orbital lainnya sebagai pengganti ISS. Namun, produk medis yang diproduksi di luar angkasa masih membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mencapai uji klinis. Jalur regulasi pun baru mulai terbentuk. Koffler mengungkapkan bahwa ia telah berpartisipasi dalam lokakarya Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) tentang biomanufaktur luar angkasa awal tahun ini. "Butuh beberapa tahun hingga kita sampai ke klinik, tetapi penting untuk mulai membangun kerangka kerja itu sekarang," ujarnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang kolaborasi riset dan investasi di bidang bioteknologi dan antariksa. Meskipun masih jauh dari aplikasi klinis, potensi produksi jaringan transplantasi di orbit dapat menjadi solusi atas keterbatasan donor organ di dalam negeri. Pertanyaannya, seberapa siap Indonesia untuk ikut serta dalam gelombang baru manufaktur luar angkasa ini?



