Iran Menguburkan Pemimpin Tertinggi Khamenei di Tengah Ketegangan Internal dan Eksternal
Baca dalam 60 detik
- Jenazah Ali Khamenei dimakamkan di Mashhad setelah prosesi massal yang berlangsung sepekan, menandai berakhirnya era 37 tahun kepemimpinannya.
- Penerusnya, Mojtaba Khamenei, masih belum tampil di publik akibat luka parah dalam serangan yang sama, menimbulkan ketidakpastian suksesi.
- Pemakaman ini terjadi di tengah krisis ekonomi dan protes domestik, serta konflik baru dengan AS, yang berimplikasi pada stabilitas kawasan termasuk Indonesia.

Iran memakamkan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei di kompleks makam suci Imam Reza di Mashhad pada Kamis (9/7), menutup babak panjang kepemimpinan yang kontroversial sekaligus membuka era baru yang diselimuti ketidakpastian. Prosesi pemakaman yang berlangsung sepekan ini menjadi panggung bagi rezim untuk menunjukkan kekuatan ideologisnya, namun di balik itu, negeri para mullah menghadapi tantangan internal yang akut dan warisan kepemimpinan yang diperdebatkan sengit.
Khamenei, yang memimpin Iran sejak 1989, tewas dalam serangan pada 28 Februari lalu bersama empat anggota keluarganya. Jenazahnya telah diarak melalui Teheran, Qom, serta kota suci Syiah Najaf dan Karbala di Irak, sebelum akhirnya dimakamkan di Mashhad. Ratusan ribu orang turun ke jalan dalam setiap prosesi, meneriakkan slogan-slogan revolusioner dan menuntut balas dendam terhadap Presiden AS Donald Trump. “Demi darah Pemimpin Tertinggi, Trump, kami akan membunuhmu!” teriak massa, sementara sejumlah perempuan mengangkat plakat bertuliskan “Bunuh Trump”.
Namun, di tengah pawai duka yang megah itu, pertanyaan besar menggantung: ke mana Mojtaba Khamenei? Putra almarhum yang telah ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi baru oleh majelis ulama seminggu setelah kematian ayahnya, masih belum muncul di hadapan publik. Sumber-sumber senior di Teheran mengatakan ia menderita luka berat—wajahnya cacat dan anggota tubuhnya cedera parah—dalam serangan yang sama. Proses pemulihannya berjalan lambat, dan aparat keamanan sengaja membatasi eksposurnya untuk menghindari serangan AS lebih lanjut. Ketidakhadiran Mojtaba memicu spekulasi tentang stabilitas suksesi dan peran sesungguhnya Garda Revolusi Islam (IRGC) di balik layar.
Pemakaman ini berlangsung di saat yang kritis. Iran baru saja melewati gelombang protes nasional terbesar dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh kemarahan atas ekonomi yang lumpuh akibat sanksi. Pasukan keamanan menumpas demonstrasi tersebut dengan kekerasan, menewaskan ribuan orang. Di sisi lain, setelah berminggu-minggu gencatan senjata, ketegangan dengan Amerika Serikat kembali memanas. Analis menilai Iran secara strategis berhasil mempertahankan kendali atas Selat Hormuz, namun kerusakan infrastruktur dan ekonomi akibat perang semakin memperburuk situasi domestik.
Warisan Khamenei sendiri menuai kontroversi. Selama masa kepemimpinannya, ia secara sistematis memusatkan kekuasaan politik, ekonomi, dan militer di tangannya, menggeser peran presiden dan parlemen. Langkah ini dilakukan bersama IRGC, yang pengaruhnya tumbuh pesat. Kini, dengan IRGC sebagai pendukung utama Mojtaba, banyak pengamat bertanya-tanya apakah Iran akan bergerak menuju sistem yang lebih militeristik atau justru mengalami perpecahan internal.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia menjalin hubungan diplomatik dan ekonomi dengan Iran, terutama di sektor energi. Ketidakstabilan di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan harga komoditas global. Selain itu, eskalasi konflik Iran-AS dapat memicu ketegangan geopolitik yang lebih luas di Timur Tengah, yang berimbas pada keamanan jalur pelayaran dan diaspora Indonesia di kawasan tersebut.
Ke depan, pertanyaan mendasar masih menggantung: mampukah Mojtaba Khamenei menyatukan faksi-faksi yang saling bersaing di Iran? Ataukah ketidakhadirannya justru menjadi celah bagi rival politik untuk merebut kekuasaan? Satu hal yang pasti, pemakaman ini bukanlah akhir, melainkan awal dari babak baru yang penuh ketidakpastian bagi Iran dan kawasan.



