Yungblud Batalkan Konser demi Kesehatan Mental: Sebuah Pengakuan yang Mengguncang Industri Musik
Baca dalam 60 detik
- Musisi asal Inggris, Yungblud, membatalkan penampilannya di Cowboys Music Festival di Calgary, Kanada, untuk fokus memulihkan kesehatan mentalnya setelah mengalami gangguan emosional di atas panggung.
- Dalam unggahan Instagram, ia mengungkapkan bahwa tekanan industri musik dan kritik pedas dari publik telah memicu perasaan terisolasi dan sakit yang tak tertahankan.
- Keputusan ini menyoroti urgensi kesadaran akan kesehatan mental di kalangan artis, terutama di tengah budaya kerja yang menuntut produktivitas tanpa henti.

Yungblud, penyanyi dan penulis lagu berusia 28 tahun yang dikenal dengan nama asli Dominic Harrison, memutuskan untuk membatalkan penampilannya di Cowboys Music Festival di Calgary, Kanada, pada Minggu (12/07/26) demi memprioritaskan pemulihan kesehatan mentalnya. Langkah ini diambil hanya beberapa hari setelah ia mengalami gangguan emosional di atas panggung saat tampil di Bludfest, Czechia.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui media sosial, Yungblud menyampaikan permintaan maaf kepada para penggemar di Kanada. “Saya saat ini berada di tempat di mana saya sedang bekerja pada diri sendiri dan mengambil waktu istirahat di rumah di Inggris. Saya menangani hal ini dengan sangat serius dan menghadapi apa yang terjadi demi kebaikan jangka panjang,” tulisnya. Ia menegaskan tidak akan pernah menganggap remeh dukungan penggemar dan berjanji akan segera kembali.
Momen kerentanan Yungblud terjadi saat konser di Park 360 pada 27 Juni lalu. Di tengah pertunjukan, ia menangis tersedu-sedu dan menghentikan lagu untuk berbicara kepada penonton. “Akhir-akhir ini, saya merasa sangat terputus dari segalanya. Saya berusaha keras untuk bangun setiap hari. Saya sering merasa sakit dan untuk waktu yang lama saya tidak tahu mengapa,” ungkapnya. Ia juga mengakui bahwa melihat wajah para penggemar adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa “aman” dari dunia luar.
Setelah konser, Yungblud membagikan rekaman momen tersebut di Instagram dengan keterangan panjang. Ia mengaku sempat ragu untuk mengunggahnya karena khawatir terkesan tidak tulus atau mencari perhatian. Namun, ia akhirnya memutuskan untuk tetap membagikannya karena momen itu nyata. “Ini adalah hasil dari tubuh saya melepaskan gelombang emosi yang menghantam saya setahun terakhir,” tulisnya. Ia juga menggambarkan bahwa setelah turun panggung, ia merasa gembira, tetapi 20 menit kemudian saat mandi sendirian, ia justru mengalami breakdown.
Yungblud juga menyoroti tekanan yang dihadapi para musisi modern. Ia menilai ritme industri musik yang cepat tidak menyisakan ruang untuk memproses emosi. “Kebencian dan ketidakpercayaan” dari orang asing maupun sesama musisi, menurutnya, telah membebani pikirannya. Meski demikian, ia merasa “tervalidasi” setelah membaca sebuah artikel yang memujinya.
Keputusan Yungblud untuk mundur dari panggung demi kesehatan mental bukanlah kasus yang terisolasi. Di Indonesia, isu serupa mulai mendapat perhatian, terutama di kalangan musisi dan pekerja seni yang kerap menghadapi tekanan serupa. Budaya kerja yang menuntut produktivitas tanpa henti, ditambah dengan ekspektasi penggemar dan kritik di media sosial, sering kali menjadi beban berat. Langkah Yungblud bisa menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah prioritas yang tidak boleh diabaikan, bahkan di tengah popularitas.
Ke depan, keputusan Yungblud membuka pertanyaan tentang bagaimana industri musik dan hiburan dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi para artis. Apakah akan ada perubahan kebijakan atau budaya yang memungkinkan para musisi untuk mengambil jeda tanpa rasa bersalah? Atau justru tekanan akan terus mendorong lebih banyak artis untuk angkat bicara? Yang jelas, pengakuan jujur Yungblud telah menyentuh banyak orang dan memperkuat pesan bahwa meminta bantuan adalah tanda kekuatan, bukan kelemahan.



