Boy George Lelang Koleksi Mode Ikonik: Dari Panggung ke Meja Lelang
Baca dalam 60 detik
- Boy George melelang lebih dari 100 item busana dan aksesori rancangan desainer kelas dunia seperti Vivienne Westwood dan Jean Paul Gaultier.
- Sebagian koleksi sempat hilang setelah dipinjamkan ke produksi musikal Taboo, memaksa sang musisi membelinya kembali dari pedagang barang bekas.
- Lelang bertajuk Bold Luxury: Boy George Edit ini diprediksi meraup hingga ratusan ribu dolar, dengan pameran di New York selama Bulan Kebanggaan.

Penyanyi legendaris Culture Club, Boy George, memutuskan untuk melelang sebagian besar koleksi busana dan aksesorinya yang sarat nilai sejarah. Langkah ini bukan sekadar transaksi komersial, melainkan sebuah refleksi atas perjalanan karier dan identitas visual yang telah ia bangun selama puluhan tahun.
Koleksi yang akan dilelang mencakup lebih dari seratus item, mulai dari gaun rancangan desainer papan atas seperti Vivienne Westwood, Jean Paul Gaultier, dan John Galliano, hingga topi-topi khas buatan Philip Treacy. Tak ketinggalan, kostum panggung yang ia kenakan saat tampil bersama Culture Club dan sampul album ikonik seperti Colour By Numbers (1983) โ termasuk setelan dua potong merah muda yang menjadi ciri khas era tersebut.
Menurut Boy George, keputusan untuk menjual koleksi ini muncul setelah ia menyadari banyak barang berharganya yang hilang. Sejumlah kostum yang dipinjamkan untuk produksi musikal Taboo โ yang ia garap pada awal 2000-an โ ternyata dijual di pekarangan tanpa sepengetahuannya. "Saya harus bernegosiasi dengan orang yang menjualnya untuk mendapatkan kembali barang-barang yang saya pinjamkan," ujarnya kepada PEOPLE. "Perjalanan ini justru membuat saya semakin bersemangat mencari dan mengumpulkan kembali karya-karya lama."
Martin Nolan, salah satu pendiri dan direktur eksekutif Julienโs Auctions, menilai Boy George bukan sekadar musisi, melainkan ikon yang mengubah lanskap mode dan ekspresi diri. "Koleksi ini menangkap keberanian kreatif dan individualitas yang menjadikannya ikon global," kata Nolan. "Ini bukan sekadar lelang, melainkan perayaan seni, gaya, dan pemberontakan budaya yang tak terlupakan."
Bagi penggemar mode dan musik di Indonesia, fenomena ini mengingatkan pada bagaimana busana panggung bisa menjadi aset investasi. Di dalam negeri, tren mengoleksi kostum musisi legendaris mulai berkembang, meski belum seramai di pasar global. Namun, lelang Boy George bisa menjadi referensi bagi kolektor lokal untuk mulai melirik artefak budaya pop sebagai instrumen investasi alternatif.
Boy George sendiri mengaku tidak pernah menyangka bahwa pakaian yang ia kenakan di usia 24 tahun akan dianggap ikonik. "Saat muda, Anda tidak berpikir tentang apa yang ikonik, karena Anda hanya menjadi diri sendiri. Baru setelahnya, semuanya menjadi bersejarah," ujarnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa nilai sebuah karya seringkali baru terlihat setelah melewati waktu.
Dengan pameran yang bertepatan dengan Bulan Kebanggaan, lelang ini juga memiliki dimensi simbolis: merayakan identitas dan kebebasan berekspresi yang telah lama diperjuangkan Boy George. Pertanyaan besarnya, apakah koleksi ini akan tetap utuh di tangan satu kolektor, atau tersebar ke berbagai penjuru dunia? Jawabannya akan diketahui pada 14 Juli mendatang.



