Menguak Rahasia Lapangan Wimbledon: Jawaban Jamie Murray untuk Publik
Baca dalam 60 detik
- Juara ganda campuran Wimbledon, Jamie Murray, mengungkap detail teknis seperti panjang raket maksimal 29 inci dan pemilihan bola terbaru untuk servis.
- Pemain tenis profesional jarang menggunakan kacamata hitam meski kondisi lapangan menyilaukan, berbeda dengan kebiasaan Murray yang memakainya selama 13 tahun.
- Tabir surya selalu dipakai pemain, tetapi diaplikasikan di ruang ganti sebelum pertandingan untuk menghindari keringat dan tangan licin.

Wimbledon bukan sekadar turnamen tenis bergengsi; ia adalah laboratorium rahasia bagi para penggemar yang penasaran dengan detail-detail kecil yang luput dari sorotan kamera. Jamie Murray, peraih dua gelar ganda campuran di All England Club, menjawab rasa penasaran publik melalui sesi tanya jawab yang mengungkap kebiasaan dan aturan teknis di balik lapangan rumput ikonik tersebut.
Salah satu pertanyaan yang paling sering muncul adalah soal ukuran raket. Murray menjelaskan bahwa panjang standar raket tenis adalah 27 inci, dengan toleransi maksimal hingga 29 inci. Namun, ia mengaku belum pernah melihat pemain yang menggunakan raket sepanjang itu. โBeberapa pemain mungkin menambahkan seperempat atau setengah inci, tapi 29 inci? Belum ada yang mendekati,โ ujarnya. Informasi ini menjadi penting bagi para pemain amatir yang kerap bereksperimen dengan peralatan tanpa memahami batasan regulasi.
Cuaca panas juga menjadi topik hangat. Menurut Murray, suhu tinggi membuat bola tenis melaju lebih cepat dan memantul lebih hidup karena permukaan lapangan yang reaktif. โBola benar-benar terbang lebih kencang saat udara panas,โ katanya. Hal ini menjelaskan mengapa pemain kerap memeriksa beberapa bola sebelum servis: mereka mencari bola terbaru dan terhalus agar kecepatan servis maksimal. โMereka ingin bola yang bisa memberi poin gratis,โ tambahnya.
Fakta menarik lainnya adalah soal kacamata hitam. Murray mengaku heran mengapa banyak pemain profesional enggan memakainya, padahal ia sendiri menggunakannya selama 13 tahun untuk melindungi mata dari silau, terutama di Australia dan Amerika Serikat. โKualitas lensa sekarang sangat bagus, saya tidak mengerti kenapa tidak lebih banyak pemain yang memakainya,โ ujarnya. Di Indonesia, di mana turnamen tenis sering digelar di bawah terik matahari tropis, kebiasaan ini patut ditiru oleh atlet lokal.
Soal tabir surya, Murray membongkar mitos bahwa pemain tidak menggunakannya. Faktanya, mereka mengaplikasikannya di ruang ganti sebelum pertandingan. โJika dipakai saat masuk lapangan, keringat akan langsung menghilangkannya dan membuat tangan licin,โ jelasnya. Sebagai gantinya, mereka mengenakan topi untuk melindungi dahi tanpa risiko keringat bercampur tabir surya masuk ke mata.
Pertanyaan lain yang tak kalah menarik adalah nasib tas dan sepatu bekas para pemain. Murray mengatakan bahwa sebagian besar pemain membawa pulang tas mereka setelah Grand Slam, lalu menyimpannya atau memberikannya kepada orang lain. Sementara itu, sepatu tidak dibuat khusus; merek hanya memproduksi model standar dan berharap pemain menyukainya. โTidak ada kustomisasi lebar jari kaki,โ tegasnya.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, wawasan ini membuka mata bahwa tenis profesional penuh dengan detail yang jarang terlihat. Pertanyaan ke depannya: akankah pemain Indonesia mulai mengadopsi kacamata hitam atau strategi pemilihan bola ala Murray? Atau justru aturan teknis seperti panjang raket akan memengaruhi pilihan peralatan mereka?



