Sprinter Muda Australia Gout Gout Absen Musim Ini Akibat Cedera Hamstring
Baca dalam 60 detik
- Pelari cepat Australia Gout Gout mengalami robekan hamstring grade tiga saat latihan di Brisbane, memaksanya absen hingga akhir 2026.
- Atlet berusia 18 tahun itu batal tampil di Kejuaraan Dunia U20 dan Commonwealth Games, setelah sebelumnya memecahkan rekor U20 200m dengan waktu 19,67 detik.
- Cedera ini menjadi pukulan bagi karier Gout yang sempat disebut-sebut sebagai penerus Usain Bolt, namun ia bertekad comeback pada 2027.

Pelari cepat Australia Gout Gout harus mengubur ambisinya untuk bersaing di level internasional musim ini setelah mengalami cedera hamstring parah saat menjalani latihan di Brisbane. Hasil MRI menunjukkan robekan grade tiga pada hamstring kiri, cedera yang memaksa sprinter berusia 18 tahun itu menepi hingga akhir tahun 2026.
Gout sebelumnya memilih untuk tidak tampil di Commonwealth Games Glasgow 2026 dan lebih fokus pada Kejuaraan Dunia Atletik U20 di Eugene, Oregon, Agustus mendatang. Namun cedera yang dideritanya membuat rencana itu pupus. Dalam unggahan di Instagram, ia mengaku sangat kecewa tetapi menerima kondisi ini sebagai bagian dari dunia atletik. "Fokus saya sekarang adalah rehabilitasi dan memastikan saya kembali pada 2027 dengan lebih baik, lebih kuat, dan lebih cepat," tulisnya.
Cedera grade tiga merupakan robekan total pada otot atau tendon, yang membutuhkan waktu pemulihan tiga hingga enam bulan atau lebih. Ini berarti Gout harus menjalani proses penyembuhan yang panjang dan disiplin. Federasi Atletik Australia dalam pernyataan resmi menyebutkan bahwa Gout memiliki karier yang panjang dan menarik di depannya, dan penting baginya untuk mengambil waktu yang cukup untuk pulih.
Kiprah Gout memang menyita perhatian dunia setelah ia mencatatkan waktu 19,67 detik di nomor 200m pada Kejuaraan Atletik Australia April lalu. Catatan itu tidak hanya memecahkan rekor dunia U20, tetapi juga lebih cepat dari waktu Usain Bolt saat berusia 18 tahun (19,93 detik pada 2004). Tak heran jika banyak pihak menjulukinya sebagai calon penerus legenda sprint Jamaika tersebut.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa atletik regional Asia-Pasifik terus melahirkan talenta-talenta muda potensial. Australia sebagai tetangga dekat Indonesia kerap menjadi tolok ukur prestasi atletik di kawasan. Cedera yang dialami Gout menunjukkan betapa rentannya atlet muda terhadap cedera serius, sekaligus pentingnya manajemen beban latihan dan pemulihan yang tepat. Hal ini relevan bagi pembinaan atlet muda Indonesia yang mulai menonjol di cabang atletik, seperti lari jarak pendek.
Gout sendiri mengaku optimistis bisa kembali ke lintasan pada 2027. Namun pertanyaan besarnya adalah apakah ia bisa mempertahankan performa puncak setelah absen panjang? Sejarah mencatat, banyak sprinter muda yang kesulitan bangkit setelah cedera hamstring parah. Di sisi lain, dengan usia yang masih sangat muda, Gout memiliki waktu untuk membangun kembali fondasi fisiknya. Yang jelas, dunia atletik akan menantikan kembalinya sprinter yang sempat disebut-sebut sebagai "Bolt berikutnya" ini.



