Max Holloway: Legenda UFC yang Jarang Disebut dalam 'Mount Rushmore' MMA
Baca dalam 60 detik
- Max Holloway akan menghadapi Conor McGregor di UFC 329, menandai laga ke-32 bersama UFC dan main event ke-15.
- Meski memiliki rekor 23 kemenangan di UFC, namanya jarang masuk dalam daftar empat petarung terbaik sepanjang masa.
- Pertarungan ini menjadi kesempatan Holloway untuk membalaskan kekalahan 13 tahun lalu dan mempertegas statusnya sebagai ikon.

Max Holloway, petarung asal Hawaii, akan kembali menulis sejarah saat berhadapan dengan Conor McGregor di UFC 329, Minggu (12/11) dini hari WIB. Dengan 32 pertarungan di bawah bendera UFC, Holloway telah membuktikan diri sebagai salah satu nama terbesar dalam olahraga mixed martial arts, meskipun pengakuan sebagai yang terhebat sepanjang masa masih sering luput dari namanya.
Holloway, yang kini berusia 34 tahun, memulai debut UFC pada 2012 saat baru berusia 20 tahunโmenjadikannya petarung termuda di daftar saat itu. Langkah berani UFC merekrut petarung dengan hanya empat pertarungan profesional terbukti tepat. Kini, ia akan memimpin main event ke-15 kalinya, hanya kalah dari Anderson Silva (21), Jon Jones (19), Randy Couture (18), dan Tito Ortiz (16). Angka ini menunjukkan betapa UFC mengandalkan Holloway sebagai bintang yang mampu menarik penonton.
Dalam perjalanannya, Holloway pernah menjadi juara interim kelas bulu pada 2016 setelah mengalahkan Anthony Pettis, lalu naik menjadi juara tak terbantahkan setahun kemudian dengan menghentikan Jose Aldo. Dua kali ia mempertahankan sabuk kelas 145 pon, sebelum kalah dari Alexander Volkanovski pada 2019. Meski gagal merebut kembali gelar dalam tiga kesempatan berikutnya, Holloway tetap menjadi salah satu petarung paling laku di UFC berkat kegigihannya.
Gaya bertarung Holloway yang agresif dengan volume pukulan tinggi dan stamina luar biasa membuatnya digemari penggemar. Ia juga dikenal mampu beradaptasi di berbagai kelas, mulai dari kelas bulu, ringan, hingga welter yang akan dijalaninya akhir pekan ini. Pada 2020, ia mengubah pendekatan latihan dengan mengurangi sparring demi menjaga kesehatan, namun hal itu tak mengurangi kemampuannya di oktagon.
Pertarungan melawan McGregor menjadi momen emosional bagi Holloway. Tiga belas tahun lalu, saat masih sama-sama petarung muda, McGregor mengalahkannya melalui keputusan di kartu pendahuluan. Kini, Holloway melihat kesempatan untuk "memperbaiki kesalahan" dan menunjukkan bahwa ia telah berevolusi. Petarung muda seperti Lone'er Kavanagh (27 tahun) dari Inggris mengaku terinspirasi oleh Holloway. "Jika saya melihatnya, saya seperti anak kecil. Saya mengagumi Max, dia sudah berada di puncak begitu lama dan selalu bertarung dengan menarik," ujar Kavanagh.
Bagi penggemar MMA di Indonesia, pertarungan ini menyoroti bagaimana seorang petarung bisa tetap relevan meski tanpa sabuk juara. Holloway membuktikan bahwa warisan tidak selalu diukur dari gelar, melainkan dari konsistensi dan kemampuan menghibur. Pertanyaannya, akankah kemenangan atas McGregor membawanya kembali ke perebutan gelar, atau justru menjadi akhir dari perjalanan panjangnya di puncak?



