Kebakaran Savana Tambora: 1.956 Hektare Ludes, Habitat Satwa Terancam
Baca dalam 60 detik
- Kebakaran melanda 1.956 hektare savana di Taman Nasional Tambora, Nusa Tenggara Barat, sejak Minggu (5/7) lalu.
- Kondisi kering dan angin kencang mempercepat perluasan api, memicu kekhawatiran terhadap satwa endemik seperti Kakatua Kecil Jambul Kuning.
- Pemerintah mengerahkan regu Manggala Agni dan mengajak kolaborasi masyarakat untuk mencegah kebakaran serupa di musim kemarau.

Kebakaran yang melanda kawasan savana Taman Nasional (TN) Tambora di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, telah menghanguskan sekitar 1.956 hektare lahan sejak akhir pekan lalu, mengancam habitat satwa liar dan ekosistem cagar biosfer dunia.
Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, mengungkapkan api pertama kali terdeteksi pada Minggu (5/7) pukul 13.30 WITA di Resort Piong. Kondisi lapangan yang kering, vegetasi savana yang mudah terbakar, serta hembusan angin kencang di medan pegunungan membuat api cepat meluas. Keterbatasan sumber air semakin mempersulit upaya pemadaman.
Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Jabalnusra bersama BTN Tambora dan Masyarakat Peduli Api (MPA) terus berjibaku menjinakkan kobaran. Kementerian Kehutanan telah menurunkan satu regu Manggala Agni dari Seksi Wilayah III Mataram untuk memperkuat operasi. Personel tambahan itu bergabung dengan tim yang sudah berada di Kabupaten Bima untuk mengendalikan penyebaran api dan melindungi kawasan yang masih bisa diselamatkan.
Kebakaran ini tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga berpotensi mengganggu kualitas udara dan aktivitas wisata alam yang menjadi penopang ekonomi masyarakat sekitar. TN Tambora merupakan rumah bagi sejumlah satwa endemik, antara lain Kakatua Kecil Jambul Kuning, Nuri Kepala Merah, Kirik-kirik Australia, dan Rusa Timor. Kawasan seluas 71.645,64 hektare ini telah ditetapkan UNESCO sebagai Cagar Biosfer Dunia.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Bambang Setyo Antoko, menjelaskan strategi pemadaman terus disesuaikan dengan karakteristik medan. "Savana di Tambora membuat api menjalar cepat, terutama saat angin menguat dan sumber air terbatas. Kami fokus menekan laju penyebaran sambil mengutamakan keselamatan personel," ujarnya.
Januanto menekankan bahwa pengendalian kebakaran tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, aparat kewilayahan, pengelola kawasan, pelaku wisata, hingga masyarakat, diperlukan untuk mencegah kebakaran serupa. Ia juga mengingatkan bahwa setiap pelanggaran hukum yang menyebabkan kebakaran akan ditindak tegas.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, dan segera melaporkan jika menemukan indikasi api. Operasi pemadaman di Tambora masih terus berlangsung, dan tim berharap cuaca dapat mendukung upaya pengendalian dalam beberapa hari ke depan.



