Suhu 27,1 Derajat Celcius Jadi Ambang Batas Risiko Kematian Akibat Sengatan Panas
Baca dalam 60 detik
- Studi Tokyo menemukan risiko kematian akibat heatstroke mulai meningkat saat suhu harian melampaui 27,1°C.
- Tanpa pendingin ruangan, risiko kematian saat suhu di atas 33°C lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan yang menggunakannya.
- Kesalahan penggunaan AC, seperti filter tersumbat, berkontribusi pada 16,4% kematian di dalam ruangan.

Sebuah studi bersama Pemerintah Metropolitan Tokyo dan Universitas Tokyo mengungkapkan bahwa ambang batas suhu yang memicu risiko kematian akibat sengatan panas (heatstroke) lebih rendah dari perkiraan sebelumnya, yakni saat suhu harian maksimum menembus 27,1 derajat Celcius. Temuan ini menjadi peringatan serius bagi wilayah tropis seperti Indonesia, di mana suhu harian kerap melampaui angka tersebut sepanjang tahun.
Penelitian yang dilakukan oleh Kantor Pemeriksa Medis Tokyo dan sekolah pascasarjana universitas tersebut menganalisis 1.447 kasus kematian di 23 distrik Tokyo antara Januari 2013 hingga September 2023 yang tercatat akibat heatstroke. Faktor cuaca saat kematian dan keberadaan pendingin ruangan (AC) menjadi variabel utama yang diteliti.
Hasil analisis menunjukkan bahwa ketika suhu maksimum mencapai 33 derajat Celcius, risiko kematian pada individu yang tidak menggunakan AC lebih dari dua kali lipat dibandingkan mereka yang menggunakannya. Lebih mengkhawatirkan lagi, saat suhu melampaui 31 derajat Celcius, efek panas bertahan selama empat hingga lima hari, menjaga risiko kematian tetap tinggi meskipun suhu mulai turun.
Studi ini juga menemukan bahwa 16,4 persen kematian di dalam ruangan disebabkan oleh kegagalan penggunaan AC secara efektif, seperti ventilasi tersumbat debu atau kesalahan pengaturan suhu. Hal ini menunjukkan bahwa sekadar memiliki AC tidak cukup; perawatan dan penggunaan yang benar sama pentingnya.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara beriklim tropis dengan suhu rata-rata harian berkisar 26–32 derajat Celcius, sebagian besar wilayah Indonesia berada di atas ambang batas risiko yang diidentifikasi studi tersebut. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan beberapa kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan kerap mencatat suhu di atas 33 derajat Celcius pada musim kemarau. Hal ini diperparah dengan kepemilikan AC yang belum merata dan kesadaran akan perawatan AC yang masih rendah.
Menurut peneliti, penggunaan AC secara aktif menjadi kunci utama mitigasi. Mereka mendesak masyarakat untuk tidak ragu menyalakan AC saat suhu tinggi, serta memastikan perangkat berfungsi optimal. Di Jepang, kampanye penggunaan AC telah digalakkan setiap musim panas, namun di Indonesia, tantangan biaya listrik dan kebiasaan menghemat energi seringkali menghambat langkah ini.
Ke depan, pemerintah daerah di Indonesia dapat mempertimbangkan kebijakan serupa, seperti subsidi listrik untuk kelompok rentan atau sosialisasi perawatan AC. Pertanyaan yang muncul: apakah Indonesia siap menghadapi ancaman heatstroke yang semakin nyata akibat perubahan iklim, atau justru akan terjebak dalam siklus kematian yang sebenarnya bisa dicegah?



