Ketegangan AS-Iran Kembali Mencekik Pasar Global, Wall Street dan Eropa Loyo
Baca dalam 60 detik
- Pernyataan Trump yang mengancam gencatan senjata dengan Iran memicu lonjakan harga minyak dan aksi jual di bursa global.
- Indeks utama Eropa dan Wall Street kompak melemah, sementara Nikkei justru menguat berkat reli saham semikonduktor.
- Bursa saham Indonesia berpotensi tertekan terbuka negatif, dengan saham emiten komoditas dan Naspers/Prosus menjadi sorotan.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran mungkin telah berakhir, mendorong harga minyak mentah Brent melonjak dan menyulut aksi jual di bursa global. Pasar saham Wall Street dan Eropa kompak melemah pada perdagangan Rabu, sementara bursa Asia mencatat pergerakan beragam.
Indeks S&P 500 ditutup turun 0,28 persen, sedangkan Dow Jones Industrial Average ambles 1,09 persen. Di sisi lain, Nasdaq justru menanjak tipis 0,20 persen berkat permintaan yang masih kuat di sektor teknologi. Tekanan lebih besar dirasakan bursa Eropa: FTSE 100 merosot 1,66 persen dan Euro Stoxx 50 terkoreksi 1,82 persen, seiring kekhawatiran biaya energi yang membengkak akibat kenaikan harga minyak.
Di Asia, Nikkei 225 menjadi pengecualian dengan melesat 1,52 persen, ditopang reli saham semikonduktor. Sementara itu, Hang Seng Index turun 0,78 persen dan ASX 200 melemah 0,45 persen setelah Morgan Stanley menurunkan peringkat saham Rio Tinto, menekan sektor bahan baku.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan dibuka cenderung flat hingga negatif pada perdagangan Kamis. Investor masih mencerna dua kekuatan berlawanan: meningkatnya tensi geopolitik di satu sisi, dan kinerja solid sektor teknologi di sisi lain. Saham Naspers dan Prosus berpotensi tertekan setelah induk usahanya, Tencent, turun 2,09 persen di Hong Kong. Sektor sumber daya alam juga dibayangi sentimen negatif setelah indeks ASX 300 Metals and Mining ambles 2,00 persen.
Pada perdagangan Rabu, Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup tajam melemah. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks Top 40 masing-masing turun 1,79 persen ke level 108.349 poin dan 100.189 poin. Sektor sumber daya alam menjadi pemberat utama, dengan indeks Precious Metals anjlok 4,32 persen. Saham emiten tambang seperti Northam (-7,00%), Harmony (-6,13%), dan Implats (-6,11%) menjadi yang paling tertekan. Sektor keuangan juga ikut ambles 2,04 persen, sementara sektor industri hanya mampu bertahan tipis di zona hijau berkat kenaikan saham Naspers (+4,73%) dan Prosus (+4,23%).
Bagi investor Indonesia, eskalasi konflik AS-Iran membawa risiko ganda. Pertama, lonjakan harga minyak dapat memperlebar defisit neraca perdagangan dan menekan nilai tukar rupiah. Kedua, pelemahan harga komoditas tambangโterutama logam muliaโlangsung berdampak pada emiten-emiten besar di bursa. Di sisi lain, sektor teknologi yang diwakili Naspers dan Prosus justru menawarkan perlindungan (hedge) karena kinerjanya tidak terkait langsung dengan siklus komoditas.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran serta data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Jika ketegangan berlanjut, volatilitas diperkirakan masih tinggi, dan investor disarankan untuk selektif dalam memilih sektor. Pertanyaan besarnya: akankah reli saham teknologi mampu bertahan di tengah badai geopolitik yang kian pekat?



