Perdagangan Berjangka Emas Diproyeksi Tumbuh Pesat Sepanjang Dekade Mendatang
Baca dalam 60 detik
- Nilai transaksi perdagangan berjangka komoditas (PBK) melonjak 49,8% pada 2025 menjadi Rp48.867 triliun, didorong minat generasi Alfa dan adopsi AI.
- Direktur Utama PT Smartin Advisor Sistem, Odang Supriatna, menekankan pentingnya literasi dan manajemen risiko di tengah pertumbuhan sektor ini.
- Trading berjangka emas menjadi alternatif investasi safe haven seiring kelangkaan emas fisik dan potensi keuntungan dua arah.

Perdagangan berjangka komoditas (PBK), khususnya emas, diproyeksikan mengalami pertumbuhan signifikan dalam satu dekade ke depan. Optimisme ini muncul seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) yang membuat instrumen investasi ini semakin mudah diakses oleh generasi muda, terutama Generasi Alfa yang akrab dengan teknologi.
Data Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) menunjukkan bahwa pada 2025, nilai nominal transaksi PBK mencapai Rp48.867 triliun, melonjak 49,8% secara tahunan. Sementara itu, volume transaksi tercatat sebanyak 14,56 juta lot, naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini mencerminkan semakin besarnya minat masyarakat terhadap instrumen derivatif, terutama emas.
Direktur Utama PT Smartin Advisor Sistem, Odang Supriatna, menilai bahwa pertumbuhan ini belum diimbangi dengan literasi yang memadai. "Saat ini PBK tumbuh positif namun literasi masih perlu ditingkatkan," ujarnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Kamis (9/7/2026). Menurutnya, investor dan trader harus memegang dua prinsip utama: knowledge first dan risk management always. Tanpa pemahaman yang cukup, risiko kerugian bisa sangat besar, terutama karena perdagangan berjangka menggunakan leverage.
Odang menambahkan bahwa trading berjangka emas menjadi alternatif menarik bagi mereka yang ingin berinvestasi di aset safe haven tanpa harus memiliki emas fisik. Kelangkaan emas fisik yang semakin terasa akibat permintaan tinggi membuat instrumen derivatif ini kian diminati. "Peredaran emas fisik semakin langka dan sulit dicari," jelasnya. Trading berjangka emas memungkinkan spekulasi terhadap pergerakan harga tanpa perlu menyimpan logam mulia, dengan efisiensi modal melalui margin dan potensi keuntungan dua arahโbaik saat harga naik maupun turun.
Bagi investor Indonesia, perkembangan ini membuka peluang baru di tengah volatilitas pasar global. Namun, edukasi dan pemahaman risiko menjadi kunci agar tidak terjebak dalam kerugian akibat leverage yang tinggi. Otoritas seperti Bappebti diharapkan terus mendorong literasi dan pengawasan agar pertumbuhan sektor ini berkelanjutan.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah generasi muda Indonesia siap memanfaatkan momentum ini dengan bijak, atau justru akan terjebak dalam spekulasi tanpa pemahaman yang cukup? Jawabannya akan menentukan apakah perdagangan berjangka emas benar-benar menjadi instrumen investasi inklusif atau sekadar arena judi harga.



