Terowongan Boneka Cuaca Hiasi Festival Bintang di Tokyo, Sapa Pengunjung hingga 21 Juli
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 1.300 boneka cuaca berwarna-warni menghiasi terowongan festival bintang di Kuil Tanashi Jinja, Nishitokyo, Jepang.
- Instalasi yang dimulai sejak 2019 ini bertujuan memohon hasil panen yang baik dan cuaca cerah, dengan jumlah boneka meningkat 500 dari tahun lalu.
- Pengunjung dapat menuliskan harapan pada kertas tanzaku dan menikmati suasana hingga 21 Juli, menjadi daya tarik wisata spiritual dan budaya.

Terowongan bertema festival bintang yang dihiasi ribuan boneka cuaca berwarna-warni kini menjadi pemandangan yang memanjakan mata di Kuil Tanashi Jinja, Nishitokyo, Tokyo. Instalasi yang dikenal sebagai "Tanabata Teruteru Tunnel" ini tidak hanya memanjakan pengunjung, tetapi juga menyimpan makna spiritual yang dalam: doa agar tanaman tumbuh subur tanpa diterpa badai atau topan.
Untuk edisi kedelapan tahun ini, sebanyak 1.300 boneka cuacaโatau teruteru bozuโdigantung di sepanjang terowongan kayu, meningkat sekitar 500 boneka dibandingkan tahun sebelumnya. Boneka-boneka tersebut, yang terbuat dari kain putih dan berwarna-warni, menjadi simbol harapan akan cuaca cerah, terutama di musim hujan dan badai yang kerap melanda Jepang.
Pengunjung tampak antusias menuliskan keinginan mereka pada potongan kertas kecil yang disebut tanzaku, lalu mengikatkannya pada bingkai kayu terowongan. Beberapa pesan yang terlihat antara lain "Semoga semua orang tetap sehat" dan "Semoga saya menang tiket konser artis favorit saya." Aktivitas ini menjadi bagian dari tradisi Tanabata, festival bintang yang dirayakan setiap 7 Juli di Jepang, di mana orang-orang memohon terkabulnya impian.
Pendeta utama Kuil Tanashi Jinja, Tomoyuki Kaya (40), menjelaskan bahwa ide terowongan ini lahir dari harapan agar "hati dan cuaca sama-sama cerah." Menurutnya, instalasi ini diharapkan dapat membawa keceriaan bagi setiap pengunjung yang datang. "Kami memulai ini dengan doa, 'Semoga hati Anda dan cuaca sama-sama cerah.' Kami berharap pengunjung menikmati kunjungan yang cerah ke kuil sambil menyaksikan halaman yang dihias dengan indah," ujarnya.
Fenomena ini menarik perhatian tidak hanya wisatawan lokal, tetapi juga mancanegara. Di Indonesia, tradisi serupa seperti festival lampion atau pelepasan burung merpati juga kerap menjadi daya tarik wisata budaya. Namun, yang membedakan adalah perpaduan antara unsur festival bintang (Tanabata) dan boneka cuaca yang unik, yang jarang ditemukan di tempat lain. Bagi wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Tokyo pada bulan Juli, menyempatkan diri ke Kuil Tanashi Jinja bisa menjadi alternatif wisata spiritual yang berbeda dari hiruk-pikuk kota.
Terowongan ini dapat dinikmati hingga 21 Juli mendatang. Dengan cuaca musim panas yang cerah, pengunjung diharapkan dapat merasakan kedamaian dan harapan baru. Pertanyaannya, akankah tradisi serupa mulai diadopsi di Indonesia sebagai bentuk pelestarian budaya dan pariwisata kreatif?



