AS Gempur Iran, Tehran Balas Serang Tiga Negara Teluk: Gencatan Senjata di Ambang Kehancuran
Baca dalam 60 detik
- Serangan udara AS pada Kamis dinihari menyasar infrastruktur militer dan sipil Iran, termasuk jembatan dan bandara, sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal dagang di Selat Hormuz.
- Tehran membalas dengan menembakkan drone dan rudal ke Bahrain, Kuwait, dan Qatar, mengancam pangkalan Armada Kelima AS dan memicu kekhawatiran perang regional yang lebih luas.
- Pernyataan Trump bahwa gencatan senjata 'sudah berakhir' mendorong lonjakan harga minyak dan menimbulkan ketidakpastian baru pada negosiasi damai yang sudah rapuh.

Amerika Serikat melancarkan gelombang baru serangan udara ke Iran pada Kamis dini hari, dan Teheran segera membalas dengan menghujani Bahrain, Kuwait, dan Qatar dengan rudal serta drone—sebuah eskalasi yang mengancam runtuhnya kesepakatan gencatan senjata sementara yang dirancang untuk mengakhiri perang di Teluk Persia.
Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata yang rapuh itu 'sudah berakhir', menyusul serangan Iran terhadap kapal-kapal niaga di Selat Hormuz. Militer AS menegaskan bahwa operasi kali ini bertujuan untuk 'menurunkan lebih lanjut' kemampuan Iran mengganggu kebebasan navigasi di jalur laut yang menjadi urat nadi pasokan energi global itu. Sebelum perang pecah pada 28 Februari, seperlima minyak dan gas alam yang diperdagangkan di dunia melintasi selat tersebut.
Laporan dari media pemerintah Iran menyebutkan ledakan terjadi di sejumlah lokasi, termasuk Bushehr—tempat kompleks pembangkit listrik tenaga nuklir Iran—serta kota-kota pelabuhan selatan seperti Chabahar, Konarak, Bandar Abbas, dan Sirik. Di Iranshahr, seorang petugas pemadam kebakaran tewas akibat serangan di bandara setempat. Untuk pertama kalinya sejak April, serangan AS juga menyasar jembatan-jembatan strategis Iran, termasuk sebuah jembatan kereta api di Provinsi Golestan, yang disebut Garda Revolusi sebagai bagian dari jalur menuju Mashhad—kota tempat pemakaman mendiang Ayatollah Ali Khamenei.
Trump, yang baru saja meninggalkan KTT NATO di Turki, mengunggah video-video yang diklaimnya sebagai ledakan di Iran dan kembali mengeluarkan ancaman. 'Ini adalah pembalasan atas pemboman kapal-kapal oleh Iran kemarin. Jika terjadi lagi, akan jauh lebih buruk!' tulisnya di media sosial. Meski demikian, ia sebelumnya menyatakan bahwa pertempuran terbaru ini tidak akan berujung pada aksi militer jangka panjang. 'Apa pun yang terjadi akan berlangsung sangat cepat,' ujarnya, sembari tidak menutup kemungkinan militer AS 'menyelesaikan pekerjaan' dengan menghantam infrastruktur sipil Iran, termasuk pembangkit listrik dan pabrik desalinasi, serta merebut Pulau Kharg.
Ketegangan ini memicu kekhawatiran bahwa perang skala penuh dapat kembali melanda kawasan. Iran sendiri bersikukuh bahwa kesepakatan gencatan senjata memberinya hak untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz. Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf, yang juga negosiator utama, menantang AS melalui platform X: 'Amerika masih belum belajar bahwa intimidasi dan ingkar janji tidak lagi gratis. Biar saya tegaskan: jika Anda menyerang, Anda akan terkena serangan balasan.'
Bagi Indonesia, eskalasi ini membawa risiko langsung terhadap stabilitas pasokan energi dan harga minyak dunia. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap gejolak di Teluk Persia berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan dan membebani anggaran subsidi energi. Lebih jauh, ketidakpastian di kawasan dapat mengganggu arus investasi dan rantai pasok komoditas strategis yang bergantung pada jalur pelayaran internasional. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini sebagai sinyal untuk mempercepat diversifikasi sumber energi dan memperkuat diplomasi ekonomi di tengah rivalitas kekuatan besar.
Diplomasi yang sempat diharapkan meredakan ketegangan justru semakin terperosok. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengecam pernyataan Trump sebagai 'pengakuan kegagalan' kebijakan AS terhadap Iran. Sementara itu, analis menilai serangan terhadap kapal-kapal di selat yang terus berlangsung meski ada negosiasi mencerminkan perpecahan internal di Teheran: kelompok garis keras menginginkan kendali permanen atas jalur air tersebut sebagai alat tekanan terhadap Barat, sementara kelompok pragmatis mendambakan kesepakatan damai permanen untuk mencabut sanksi dan memulihkan ekonomi.
Pertanyaan besarnya kini: akankah gencatan senjata yang sudah di ambang kehancuran ini benar-benar berakhir, atau justru menjadi awal dari babak baru konflik yang lebih luas? Dengan pemakaman Khamenei yang menjadi jeda singkat, semua mata tertuju pada langkah selanjutnya dari Washington dan Teheran.



