Investasi Saham atau Kripto: Mana yang Lebih Cuan untuk Anak Muda?
Baca dalam 60 detik
- Generasi muda dihadapkan pada pilihan investasi saham dan kripto, dengan potensi keuntungan besar namun risiko tinggi.
- Literasi keuangan Indonesia yang rendah membuat banyak anak muda terjebak judi online, bukan investasi legal.
- Pakar menekankan pentingnya memulai investasi sejak dini untuk melawan inflasi dan membangun kebebasan finansial.

Di tengah gempuran inflasi yang menggerus daya beli, generasi muda Indonesia dihadapkan pada dilema klasik: memilih investasi saham yang relatif stabil atau merambah aset kripto yang volatil namun menjanjikan keuntungan eksponensial. Pertanyaan ini bukan sekadar soal cuan, melainkan juga tentang literasi keuangan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar di tanah air.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan indeks literasi keuangan Indonesia pada 2022 masih di bawah 50%, meski ada peningkatan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Rendahnya pemahaman ini membuat banyak anak muda lebih mudah tergiur skema cepat kaya, termasuk judi online (judol), ketimbang berinvestasi di instrumen legal. Padahal, menurut Komisaris Aldicitra Sekuritas, Vier Abdul Jamal, investasi sejak muda memberikan keuntungan majemuk yang luar biasa berkat faktor waktu.
Vier mencontohkan, saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencatat capital gain 296% sejak IPO 2023, setara 98% per tahunโjauh melampaui rata-rata inflasi 10 tahun terakhir yang hanya 2,8% per tahun. Sementara itu, harga Bitcoin yang pada 2010 hanya Rp73 per koin kini telah melambung hingga Rp1,1 miliar, memberikan jackpot bagi investor yang bertahan. Namun, Presiden Direktur Pintu, Andy Putra, mengingatkan bahwa kripto tetap berisiko tinggi dan membutuhkan pemahaman mendalam.
Perbedaan budaya investasi antara Indonesia dan negara maju juga menjadi sorotan. Di Amerika Serikat dan Eropa, investasi dianggap kebutuhan hidup, bukan pilihan. Banyak anak muda di sana mulai berinvestasi sejak usia 20-an dengan fokus jangka panjang 10-30 tahun. Sebaliknya, menurut Vier, investor Indonesia cenderung panik saat harga turun dan memburu saat harga naik, terjebak dalam mentalitas jangka pendek dan spekulasi tinggi. "Di Indonesia, penurunan kecil sering memicu kepanikan," ujarnya.
Andy Putra menambahkan, kripto kini telah diatur OJK sejak 2025, dengan insentif pajak berupa bebas PPN saat pembelian dan hanya dikenakan PPN final saat penjualan. Hal ini membuat kripto semakin menarik, terutama bagi generasi muda yang mendominasi 60% investor kripto berusia 18-34 tahun. Modal awal yang rendah, mulai Rp11 ribu, serta akses pasar 24 jam nonstop menjadi daya tarik utama. Ke depan, tokenisasi aset riil seperti properti membuka peluang baru bagi investor kripto untuk menjadi semacam pemegang saham proyek.
Namun, Asesor Profesi Pasar Modal B. Hari Mantoro mengingatkan bahwa investasi bukan sekadar mengejar return, melainkan juga menjaga daya beli. Ia memberi ilustrasi: harga Toyota Kijang Super Chassis pada 1991 hanya Rp24,5 juta, sementara penerusnya, Innova Zenix, kini mencapai Rp438 jutaโmelonjak 17,8 kali lipat dalam 34 tahun. "Untuk mempertahankan daya beli, generasi muda harus beralih dari budaya menabung ke budaya berinvestasi," tegasnya.
Direktur Human Capital & Compliance BNI, Mucharom, menekankan bahwa literasi keuangan adalah fondasi kesejahteraan finansial. Survei OJK menunjukkan perbaikan, tetapi masih banyak pekerjaan rumah. Pertanyaan besarnya: akankah generasi muda Indonesia mampu memanfaatkan momentum ini untuk membangun kekayaan jangka panjang, atau justru terjebak dalam pusaran spekulasi dan judi online?



