XRP Terjun Bebas Usai Raih Lisensi MiCA: Sinyal Jual di Tengah Ketidakpastian Pasar
Baca dalam 60 detik
- Harga XRP anjlok 4,35% ke $1,07 setelah Ripple mengantongi lisensi penuh MiCA dari Luksemburg, memicu aksi ambil untung.
- Lisensi tersebut merupakan tonggak kepatuhan bisnis, bukan dukungan langsung terhadap token XRP, sehingga gagal mendorong reli.
- Secara teknikal, XRP telah menembus level Fibonacci 61,8% dan diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan utama, mengonfirmasi momentum bearish.

Harga XRP ambles 4,35 persen ke level 1,07 dolar AS dalam 24 jam terakhir, menjadi salah satu kripto dengan kinerja terburuk di tengah pelemahan pasar yang meluas. Aksi jual ini dipicu oleh fenomena 'sell the news' setelah Ripple Labs resmi memperoleh izin penuh Markets in Crypto-Assets (MiCA) dari otoritas keuangan Luksemburg, CSSF.
Izin yang diterbitkan pada pekan lalu itu memungkinkan Ripple menyediakan layanan kripto teregulasi di seluruh Uni Eropa. Namun, alih-alih mendorong reli, kabar positif ini justru dimanfaatkan investor untuk mengunci keuntungan dari spekulasi sebelumnya. Dalam lingkungan pasar yang diliputi ketakutan—tercermin dari indeks Fear and Greed yang berada di zona ekstrem—aksi ambil untung semakin memperkuat tekanan jual.
Menurut analis pasar, lisensi MiCA lebih merupakan pencapaian kepatuhan bisnis bagi Ripple daripada dukungan langsung terhadap token XRP. Otorisasi Crypto Asset Service Provider (CASP) memang memperkuat posisi Ripple di Eropa, tetapi tidak serta-merta meningkatkan utilitas atau permintaan XRP. Hal ini menjelaskan mengapa berita besar tersebut gagal mendongkrak harga.
Faktor lain yang membebani XRP adalah melambatnya aliran dana masuk ke produk ETF XRP spot. Data menunjukkan arus masuk bulan Juli hanya mencapai kurang dari 5 juta dolar AS, anjlok dibandingkan 132 juta dolar AS pada Mei. Padahal, ETF menjadi salah satu sumber tekanan beli yang signifikan bagi aset kripto. Penurunan drastis ini mengindikasikan berkurangnya minat institusional terhadap XRP dalam jangka pendek.
Dari sisi teknikal, XRP telah menembus level Fibonacci retracement 61,8 persen di 1,12 dolar AS dan kini diperdagangkan di bawah seluruh rata-rata pergerakan harian utama—sebuah sinyal bearish yang jelas. Zona support langsung berada di kisaran 1,05 hingga 1,07 dolar AS. Jika level ini mampu dipertahankan pembeli, XRP berpeluang mencoba merebut kembali resistance 1,12–1,18 dolar AS. Namun, penembusan tegas di bawah 1,05 dolar AS akan membuka jalan menuju level psikologis 1,00 dolar AS.
“XRP saat ini berada dalam tren bearish di bawah $1,12, namun kondisi jenuh jual di dekat level terendah multi-bulan bisa memicu pantulan taktis jika sentimen pasar membaik,” ujar seorang analis teknis yang enggan disebutkan namanya.
Katalis besar berikutnya yang dinanti pasar adalah pengesahan Undang-Undang CLARITY di Amerika Serikat, yang kini diperkirakan baru akan dirilis pada awal Agustus setelah melewatkan tenggat Juli. Regulasi tersebut diharapkan memberikan kepastian hukum bagi aset kripto, termasuk status XRP. Bagi investor Indonesia, pergerakan XRP ini relevan mengingat popularitasnya di bursa lokal seperti Indodax dan Tokocrypto. Pelemahan XRP juga berpotensi memengaruhi sentimen terhadap aset kripto lain di pasar domestik yang masih rentan terhadap gejolak global.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah XRP mampu bertahan di atas support kunci 1,05 dolar AS atau justru melanjutkan penurunan menuju 1,00 dolar AS. Jawabannya akan sangat bergantung pada perkembangan regulasi AS dan pemulihan minat institusional terhadap ETF XRP.



