Piala Dunia 2026: Prancis vs Maroko, Laga Penuh Sejarah Kolonial dan Ikatan Personal di Boston
Baca dalam 60 detik
- Prancis dan Maroko akan bertemu di perempat final Piala Dunia 2026 di Boston, dengan enam pemain Maroko lahir di Prancis.
- Pertandingan ini sarat muatan sejarah kolonial dan ikatan personal, seperti persahabatan Kylian Mbappe dan Achraf Hakimi.
- Maroko kini bukan lagi underdog, melainkan tim dengan organisasi dan kepercayaan diri yang siap menantang kekuatan tradisional.

Prancis dan Maroko akan saling berhadapan dalam laga perempat final Piala Dunia 2026 di Boston, Kamis (15/7/2026), dalam pertandingan yang tidak hanya menentukan langkah menuju semifinal, tetapi juga merefleksikan hubungan sejarah dan ikatan personal yang rumit antara kedua negara. Enam pemain Maroko lahir di Prancis, sementara puluhan ribu suporter dari kedua kubu diperkirakan memadati stadion dan ruang publik di kota pesisir timur Amerika Serikat itu.
Hubungan kolonial yang membentang dari 1912 hingga 1956 meninggalkan jejak mendalam dalam sepak bola. Prancis, juara dunia 2018, memiliki skuad multikultural yang kerap diperkuat pemain keturunan Maroko. Sebaliknya, Maroko memanfaatkan diaspora untuk memperkuat tim nasional, dengan pemain seperti Ayyoub Bouaddi—lahir di Prancis, bermain di Lille, dan sempat membela tim muda Prancis sebelum memilih Maroko—menjadi simbol identitas ganda yang memperkaya narasi pertandingan.
Boston dipilih sebagai tuan rumah laga ini karena komunitas Maroko yang cukup solid, meski tidak sebesar di kota-kota Prancis. Suasana diprediksi lebih hangat dan kekeluargaan. "Beberapa tinggal di gedung yang sama, Prancis dan Maroko akan menonton bersama dan berjabat tangan di akhir," kata Mohammed Saadi, sopir taksi berusia 57 tahun. "Tidak ada ketegangan di sini. Sepak bola adalah urusan keluarga."
Pertemuan ini bukan sekadar ulangan dari laga Qatar 2022 yang dimenangkan Prancis 2-0. Maroko kini datang dengan kepercayaan diri berbeda. Mereka bukan lagi underdog yang mengejutkan, melainkan tim yang terorganisir, dengan strategi pengembangan pemain yang menghubungkan akademi domestik dengan bakat-bakat Eropa. Kemenangan 3-0 atas Kanada di babak grup menunjukkan kecepatan, disiplin, dan ambisi yang membuat mereka layak diperhitungkan.
Prancis, yang menyingkirkan Paraguay untuk mencapai perempat final, tetap diunggulkan berkat pengalaman turnamen dan lini serang tajam. Namun, persahabatan antara Kylian Mbappe dan Achraf Hakimi—rekan setim di Paris Saint-Germain—menambah dimensi personal. Keduanya kerap terlihat akrab di luar lapangan, dan laga ini akan mempertemukan mereka sebagai lawan.
Bagi Indonesia, pertandingan ini relevan karena menunjukkan bagaimana diaspora dapat menjadi kekuatan kompetitif. Indonesia, dengan komunitas besar di luar negeri, dapat belajar dari strategi Maroko dalam memanfaatkan pemain keturunan. Selain itu, atmosfer damai di Boston—di mana suporter dari dua negara yang berseteru secara historis bisa menonton bersama—memberi pelajaran tentang sportivitas dan rekonsiliasi.
Pertanyaan besarnya: akankah Maroko mampu membalikkan hasil 2022 dan menembus semifinal untuk kedua kalinya, atau Prancis akan kembali membuktikan dominasinya? Jawabannya akan terungkap di lapangan hijau Boston, dalam laga yang lebih dari sekadar sepak bola.



