Kabut Asap Lintas Batas: Malaysia dan Singapura Tercekik, Indonesia Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Kondisi darurat kabut asap di Serian, Sarawak, memicu deklarasi status darurat dan menimbulkan kekhawatiran akan dampak lintas batas hingga ke Singapura.
- Kebakaran hutan dan lahan yang tidak terkendali di Indonesia menjadi biang keladi, memicu kritik dan desakan agar pemerintah bertindak lebih tegas.
- Krisis ini menguji efektivitas kerja sama ASEAN dalam penanggulangan bencana asap serta menyoroti kebutuhan akan solusi berkelanjutan di tingkat regional.

Malaysia dan Singapura kembali dihantui kabut asap lintas batas yang semakin pekat, memaksa pemerintah Malaysia mengumumkan status darurat di Serian, Sarawak, setelah Indeks Pencemaran Udara (API) menembus angka 518โjauh melampaui ambang batas darurat 500. Kondisi ini bukan sekadar gangguan kesehatan, melainkan telah melumpuhkan aktivitas penerbangan dan memicu kekhawatiran akan krisis kesehatan masyarakat yang lebih luas.
Krisis ini berakar pada kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di dekat ibu kota baru Nusantara. Organisasi hak asasi manusia di Indonesia mendesak kepolisian untuk mengusut tuntas dugaan pembakaran yang menyebabkan ribuan pelajar mengalami keracunan akibat kabut asap. Para sukarelawan kewalahan memadamkan api yang terus menjalar, sementara perusahaan-perusahaan yang lalai disebut-sebut menjadi pemicu utama meluasnya kebakaran.
Dampaknya terasa hingga ke Singapura, di mana Pollutant Standards Index (PSI) melampaui angka 100 di beberapa wilayah, masuk kategori tidak sehat. Pemerintah Singapura telah mengeluarkan peringatan kesehatan dan mengimbau warganya untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Maskapai penerbangan seperti AirAsia pun mulai mengumumkan potensi pembatalan jadwal penerbangan akibat jarak pandang yang buruk.
Bagi Indonesia, krisis ini menjadi pengingat pahit akan tantangan lingkungan yang belum terselesaikan. Meskipun pemerintah telah berupaya melakukan penegakan hukum, praktik pembakaran lahan untuk perkebunan masih marak. Tekanan internasional pun meningkat, dengan Malaysia dan Singapura mendesak Indonesia untuk bertindak lebih tegas. Namun, akar masalahnya rumit, melibatkan kepentingan ekonomi, tata kelola lahan, dan penegakan hukum yang lemah.
Di tengah kepungan asap, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengisyaratkan akan membahas rencana aksi bersama dengan pemerintah Sarawak, sementara Menteri Sumber Daya Alam, Lingkungan Hidup, dan Perubahan Iklim Malaysia menegaskan komitmen untuk mencari solusi jangka panjang. Pertanyaannya, akankah krisis ini menjadi momentum bagi negara-negara ASEAN untuk memperkuat kerja sama penanggulangan asap lintas batas, atau justru tenggelam dalam rutinitas tahunan yang terus berulang?



