R&A Terbitkan Kode Etik Baru untuk The Open, Respons atas Perilaku Buruk Penonton
Baca dalam 60 detik
- R&A meluncurkan 'The Open Commitment' untuk menjaga tradisi dan mengatasi insiden pelecehan terhadap pemain golf.
- Langkah ini dipicu oleh kritik Scottie Scheffler dan aksi tidak sportif di turnamen sebelumnya, termasuk Ryder Cup dan US Open.
- Kode etik akan diterapkan di Royal Birkdale dengan 300.000 penonton, melalui papan pengumuman dan saluran digital.

R&A, badan pengelola Kejuaraan Terbuka Golf (The Open), resmi memberlakukan aturan perilaku baru bagi penonton mulai pekan depan di Royal Birkdale. Langkah ini diambil setelah serangkaian insiden pelecehan verbal terhadap pemain, termasuk kritik dari pegolf nomor satu dunia Scottie Scheffler, yang mengaku mendengar kata-kata kasar saat memimpin turnamen tahun lalu di Royal Portrush.
Dalam pernyataan resmi, CEO R&A Mark Darbon menegaskan bahwa 'The Open Commitment' bukanlah upaya mengubah atmosfer khas turnamen, melainkan menjaga tradisi yang telah berlangsung lama. โAtmosfer di The Open tidak seperti ajang olahraga besar lainnya. Ini dibangun atas rasa hormat bersama terhadap pemain, lapangan, sesama penggemar, dan tradisi kejuaraan,โ ujarnya. Aturan baru ini mencakup prinsip sederhana: hormati pemain, hormati lapangan, hormati sesama, waspada, dan nikmati pertandingan secara bertanggung jawab.
Keputusan R&A dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran atas perilaku penonton di turnamen golf global. Tahun lalu, Ryder Cup di Bethpage diwarnai aksi tidak sportif saat Eropa mengalahkan Amerika Serikat. Tak lama berselang, US Open di Shinnecock Hills juga mengalami gangguan serupa, di mana penonton mencemooh juara bertahan Wyndham Clark. Bahkan pada edisi The Open 2024 di Royal Portrush, pemenang Brian Harman mendapat ejekan dari pendukung tuan rumah. Scheffler, yang menjadi korban, mengungkapkan bahwa ia mendengar โkata-kata yang sangat tidak pantasโ saat memimpin di Irlandia.
Bagi penggemar golf di Indonesia, langkah R&A ini menjadi pengingat pentingnya etika menonton olahraga. Meski golf belum sepopuler sepak bola atau bulu tangkis di Tanah Air, turnamen internasional seperti The Open tetap menarik perhatian melalui siaran langsung. Perilaku penonton yang tidak terkendali dapat merusak citra olahraga yang menjunjung tinggi sportivitas. Di Indonesia sendiri, beberapa ajang golf amatir dan profesional kerap dihadiri penonton yang antusias, namun insiden pelecehan jarang terjadi berkat pengawasan ketat panitia.
Ke depan, efektivitas 'The Open Commitment' akan diuji pada turnamen yang berlangsung 17-20 Juli mendatang. Akankah aturan baru ini cukup untuk meredam ulah penonton yang merusak? Atau justru akan menimbulkan kontroversi baru? Yang jelas, R&A berharap langkah ini dapat mempertahankan The Open sebagai salah satu ajang paling dihormati di dunia golf.



