Dekranas Dorong Tenun Tana Toraja Jadi Motor Ekonomi Kreatif Nasional
Baca dalam 60 detik
- Dekranas meresmikan pelatihan pewarna alami di Tana Toraja untuk mengangkat tenun lokal sebagai produk ekonomi kreatif unggulan.
- Ketua Harian Dekranas menekankan pentingnya adaptasi motif tradisional dengan pasar modern tanpa meninggalkan filosofi budaya.
- Pendaftaran indikasi geografis menjadi prioritas untuk melindungi kekayaan intelektual wastra daerah dari eksploitasi pihak luar.

Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Tri Tito Karnavian, menegaskan komitmennya untuk menjadikan tenun Tana Toraja sebagai salah satu pilar ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan pelatihan pembuatan dan pemanfaatan pewarna alami di Pasar Seni Makale, Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Senin (6/7).
Dalam sambutannya, Tri menjelaskan bahwa tenun Toraja bukan sekadar kain, melainkan cerminan filosofi hidup, kepercayaan, dan status sosial masyarakat. Motif-motif yang dihasilkan memiliki makna mendalam yang harus dijaga kelestariannya. Namun, di tengah arus modernisasi fesyen, wastra ini juga dituntut untuk beradaptasi dengan selera pasar tanpa kehilangan identitas.
โMotif-motif itu berkaitan dengan kepercayaan dan status sosial. Ada yang memang harus dijaga kelestariannya,โ ujarnya dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7). Menurut Tri, sektor kerajinan telah memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian, baik di tingkat daerah maupun nasional. Ia optimistis bahwa pengembangan tenun dapat menjadi sumber ekonomi unggulan yang berkelanjutan.
Pelatihan yang diselenggarakan oleh Dekranasda Tana Toraja ini diharapkan mampu melahirkan lebih banyak inovasi, baik dari segi motif maupun teknik produksi. Tri menekankan bahwa pengembangan variasi produk tetap diperlukan agar tenun Toraja semakin diminati pasar modern. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya perlindungan hukum melalui pendaftaran indikasi geografis. Langkah ini bertujuan agar identitas produk dan motif tradisional tidak diambil oleh produsen lain yang tidak memberikan nilai ekonomi kembali ke daerah.
โAgar tidak diambil oleh produsen-produsen yang mungkin ingin memperbanyak produk ini, namun kemudian tidak memberikan nilai ekonomi kepada pemerintah daerah,โ tegas Tri. Ia menambahkan bahwa Tana Toraja memiliki potensi besar di sektor kriya dan kopi yang dapat dipasarkan hingga tingkat internasional. Keberhasilan pengembangan sektor ini diproyeksikan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat secara langsung.
Acara peresmian tersebut turut dihadiri oleh Direktur Jenderal Bina Pembangunan Daerah Kemendagri Restuardy Daud, Bupati Tana Toraja Zadrak Tombeg, Wakil Bupati Erianto Lasoโ Paundanan, serta Ketua Dekranasda Tana Toraja Erni Yetti Riman. Kehadiran para pejabat ini menandakan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya.
Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara pelestarian tradisi dan tuntutan pasar. Apakah para perajin mampu mempertahankan filosofi leluhur sambil menembus pasar global? Jawabannya akan menentukan apakah tenun Tana Toraja benar-benar menjadi penggerak ekonomi kreatif yang berkelanjutan.



